Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan Selepas Kerja: Bertemu Driver Lulusan Jerman

Saya memesan grab car untuk pulang dari meeting malam ini dan saya beruntung. Saat naik grab car, saya dapat driver lulusan Jerman. Namanya Pak Junus. Sebelum kuliah di Jerman, Pak Junus menempuh sekolah SMA di Moskow.  Pak Junus mengambil konsentrasi studi multimedia. Saat banyak orang di tahun 1990-an awal belum mengamati media, Pak Junus sudah membahas multimedia sebagai disiplin ilmu. Pria yang sudah empat tahun menjadi driver grab car ini mengingat apa saja yang dibahas ketika dulu kuliah itu seperti tv dan radio. Tapi, Pak Junus tidak menyelesaikan kuliahnya. Dia keluar dari kampus pada semester empat. Ceritanya, saat dia pulang untuk liburan ke Indonesia, dia iseng melamar kerja di sebuah perusahaan sebagai sales dan diterima. Gajinya cukup besar, yaitu sekitar Rp1 juta per bulan. Beberapa tahun merintis karier, dia menjadi kepala cabang perusahaan. Gaji Pak Junus di medio tahun 1998 sampai awal tahun 2000 sekitar Rp7.5 juta.  Penyesalan datang terlambat. Pak Junus bila...
Postingan terbaru

Belajar Efisiensi dari Waktu dan Bahasa

Manusia belajar dari kesalahan. Dengan memahami kegagalan masa lalu, kita bisa menghindari jatuh ke lubang yang sama. Atasan saya pernah mengkritik tulisan saya: terlalu berbunga-bunga, tidak langsung pada inti. “Kurang-lebih hampir seratus,” katanya, bisa disederhanakan menjadi “sekitar seratus.” Satu kata yang jelas lebih kuat daripada empat kata yang kabur. Saya sepakat. Bahasa yang boros hanya membuang waktu—bagi penulis maupun pembaca. Waktu, sama seperti bahasa, adalah sumber daya yang terbatas. Pembaca bukan orang yang senggang. Mereka ingin mendapatkan inti informasi dengan cepat. Kalau tulisan hanya berputar tanpa isi, mereka akan berhenti membaca. Pelajaran serupa saya dapatkan di luar tulisan. Di Jakarta, saya pernah terlambat hadir di sebuah rapat penting. Kesalahan sederhana, tidak menghitung waktu tempuh, tidak menyiapkan cadangan rencana, membuat saya datang empat puluh menit terlambat. Akibatnya, rapat kacau, atasan saya kecewa. Saat itu saya sadar: kelalaian mengatur w...

Pelajaran dari Penjual Bakso dan Penjual Sushi

  Saya bersama istri rutin berkunjung ke Wadaslintang, Wonosobo. Wadaslintang adalah daerah asal istri saya. Jaraknya kurang lebih 32 KM dari rumah kami yang berada di Wonosobo kota. Kegiatan kami ke Wadaslintang yang utama adalah mengunjungi orang tua istri. Ayah mertua saya bekerja sebagai salah satu pamong di desa, sementara ibu mertua bekerja sebagai guru SD negeri. Setiap   kali kami ke Wadaslintang, kami menyicip bakso legendaris yang ada di sana. Bakso itu tak lain tak bukan adalah bakso Pak Tutur Hernawan. Saat kami tanya sudah berapa lama berjualan bakso, Pak Tutur dengan rendah hati menjawab sudah sejak 1979 atau sekitar 45 tahun lalu. Awal mula Pak Tutur berjualan bakso, yaitu dengan mendorong gerobak keliling desa. Lalu setelah tiga tahun berdagang keliling, Pak Tutur memutuskan untuk berjualan di sebuah gubuk kecil berukuran 3 kali 3.5 meter di pinggir jalan. Ruangan yang tidak lebar itu mungkin hanya muat untuk sepuluh orang dewasa. Itu pun sudah bersesakan. Ga...

Pelajaran Investasi #1: Margin of Safety

  Dalam buku The Intelligent Investor , Ben Graham menganjurkan seorang investor untuk memperhatikan margin of safety .   Margin of Safety adalah ruang aman bagi investor untuk membeli saham.   Ruang aman itu berasal dari nilai saham sesungguhnya ( intrinsic value of stock ) dikali dengan persentase aman (misalnya 70 persen). Penerapannya dalam investasi adalah sebagai berikut: seorang investor sedang mencari harga yang pas terhadap pembelian saham. Saham A saat ini nilai intrinsiknya adalah 1000 per lembar. Tetapi dengan menggunakan margin of safety, investor dianjurkan untuk membelinya pada harga 700 per lembar atau 70 persen dari nilai intrinsik. Investor bisa mengantisipasi kesalahan dari perhitungan yang dilakukan ketika menentukan nilai intrinsik saham. Dengan membeli saham pada harga yang berada di margin of safety, kemungkinan rugi dalam investasi akan berkurang. Bukankah, investasi untuk untung ya bukannya rugi(?). Apakah mudah mencari saham dengan mema...

Pohon Bambu

Saya hidup di desa yang masih asri di selatan Jogja. Dulu ada banyak pohon bambu di tempatku tinggal. Setiap sore, selepas waktu ashar, pohon bambu yang tertiup angin akan menimbulkan suara berdecit yang lumayan keras. Di kebon yang banyak pohon bambunya itu, waktu saya kecil, bersama dengan teman-teman, saya sering bermain petak umpet. Rumpun bambu menjadi tempat persembunyian yang sering dituju. Rumpun bambu yang rungkut bisa menutupi keberadaan bocah-bocah kecil seperti kami saat main petak umpet. Permainan lain yang sering kami mainkan dulu adalah bong-bongan atau meriam bambu. Permainan itu juga memanfaatkan pohon bambu. Batang bambu yang panjang itu dipotong sekitar satu meter lebih sedikit. Ruas-ruas bambu kemudian dibolong dengan linggis, kecuali bagian ujungnya. Cara memainkannya adalah dengan memasukkan minyak tanah ke dalam rongga bambu yang sudah dilubangi antar ruasnya. Setelah itu, ada lubang kecil di ujung yang dibuat dengan gergaji. Lewat lubang kecil itu, api dar...

Camus Cinta

  Albert Camus, pemenang Nobel Sastra tahun 1957, pernah menulis esai filsafat dengan judul The Myth of Sisyphus (1942). Esai tersebut menceritakan seorang bekas raja yang lalim bernama Sisyphus. Karena kelalimannya, Sisyphus dihukum oleh Dewa Zeus untuk mendorong batu besar dari dasar ke puncak bukit. Setelah batu besar itu didorong dengan susah payah sampai puncak bukit oleh Sisyphus, batu besar dan berat itu lalu menggelinding kembali ke bawah. Sisypus pun harus mengulang mendorong batu itu kembali ke atas. Kutukan itu nampak absurd dan susah. Hidup manusia dalam benak Albert Camus nampak begitu; sekilas sia-sia dan absurd. Dan ada benarnya. Beberapa hari lalu, di media sosial ramai membahas orang-orang di daerah sekitaran Jakarta, terutama Bekasi dan Depok, yang berangkat pagi ke stasiun untuk bekerja. Mereka berangkat dini hari sebelum matahari pagi menyingsing. Sampai di stasiun, mereka masuk dalam kereta dengan desak-desakan. Menjelang pengujung pagi, kira-kira pukul 8.30...

Argentina

 Piala dunia sudah berakhir. Argentina keluar sebagai pemenang. Piala emas diangkat secara bergiliran oleh Timnas Argentina. Bahkan Messi mengecup piala emas itu sampai ke kasur. Dekapan Messi cukup erat. Wajar. Itulah kesempatan terakhir Messi memahkotai kepalanya dengan mahkota kemenangan, kata Romo Sindhunata. Messi layak menerima kemenangannya di piala dunia 2022. Perjalanannya menuju kemenangan tidak mudah. Sudah 4 piala dunia ia lewati dengan tangan hampa. Messi dan timnya mentok hanya mendapat gelar Runner Up saja. Susah-payah Messi akhirnya terbayar. Gegap gempita warga Argentina menyambut Messi dan tim. Masyarakat Argentina hanyut dalam kegembiraan. Kegembiraan yang sangat dibutuhkan masyarakat di Argentina karena negeri di Amerika Selatan itu sedang tak baik-baik saja. Inflasi Argentina secara year on year naik 82%. Harga barang di sana secara umum sudah melesat hampir dua kali lipat dibanding tahun lalu. Utang negara Argentina mencapai angka yang sudah sulit untuk diketi...

Sewindu Setelah SMA

Saya baru pulang ke rumah pada malam hari sekitar pukul 23.00 WIB. Perjalanan malam ini lumayan tenang karena jalanan lengang. Jalan Kota Yogyakarta yang biasanya padat, pada malam ini, tak menunjukkan titik-titik kemacetan.  Kelengangan jalan ini tak jarang justru membuat rasa was-was muncul. Isu begal belum lama ini mengemuka di Jogja. Pernah ada pengalaman tahun lalu bersebelahan dengan dua pengendara. Saya curiga mereka adalah begal. Pengendara depan berwajah lumayan sangar, badannya tambun, serta menatap jalan di depannya dengan mata fokus. Pembonceng menggenggam benda seperti pedang. Saya melipir di pinggir jalan untuk cari aman. Ciri-ciri begal tak terlalu asing bagi saya. Waktu SMA, saya dulu bukan siswa baik-baik. Pernah sesekali ikut aksi keliaran seperti yang saat ini dikenal dengan klitihan. Tetapi bedanya dengan aksi begal atau klitih belakangan, saya dan teman-teman dulu tidak sembarang menebas orang yang lewat di pinggir jalan.  Aksi kami dulu "hanya" sampai pa...

Anjing dan Tetangga

  Anjing menyalak di sekitar rumahku setiap malam. Aku berpikir tiada maling di dusunku. Nyalaknya cukup keras. Nyalaknya juga cukup lama. Belum lagi, setelah anjing usai menyalak, ada teriakan tetanggaku yang setiap malam merobek kesunyian. Dia berteriak menuntut keadilan. Dia bertanya dimana keadilan saat si A kaya mengapa si B miskin. Suaranya baru kelar setelah dia lelah.   Aku yang terjaga sampai pagi mendengar dua suara itu. Nyalak anjing yang curiga ada maling. Teriakan tetangga yang bertanya keadilan. Sayang sekali hanya malam, batinku, yang mendengar mereka. Apalagi kini tiada lagi kisah dewa bulan mampu mendengar maksud dari si anjing dan si tetangga katakan. Bulan hanya menjalankan tugasnya. Business as ussual. Dia hanya menerima sinar matahari lalu menyalurkannya ke bumi sebagian. Kadang-kadang, bulan juga sibuk bersolek dengan bercermin ke laut.   Maling dan keadilan. Siapa batinku yang layak menjadi maling keadilan hari ini? Semua dalam jumlah b...

Pak Camat

Teman-teman sekantor memanggil saya Pak Camat. Pakaian batik yang saya kenakan membikin look saya nampak seperti Pak Camat beneran . Iya, Pak Camat yang gemar mengenakan batik untuk kerja sehari-hari di kantor kecamatan. Sapaan itu menggema sejak awal saya masuk kantor. Didukung face saya yang memang lumayan baby ( boomer ) ini sudah pas rasanya saya dipasrahi gelar Pak Camat. Padahal datang ke kantor kecamatan saja jarang sekali. Batik lengan panjang memang rutin sekali saya kenakan. Bukannya ada alasan apa di baliknya, tapi memang saya ini tak pandai memadu-padankan pakaian. Susah dalam pikiran saya, hari ini mengenakan baju warna apa atau jenis apa. Terus celananya kudu gimana. Bingung juga ya, ujar saya. Beberapa ibu-ibu di kantor juga menyarankan untuk beli baju baru. Biar terlihat lebih muda. Ya minimal biar 1 tahun lebih muda. Sayang sekali saran itu belum terlaksana juga sampai sekarang. Padahal di saat yang sama, saya juga tahu jika look atau penampilan itu penting. Citra ...