Langsung ke konten utama

Camus Cinta

 


Albert Camus, pemenang Nobel Sastra tahun 1957, pernah menulis esai filsafat dengan judul The Myth of Sisyphus (1942). Esai tersebut menceritakan seorang bekas raja yang lalim bernama Sisyphus. Karena kelalimannya, Sisyphus dihukum oleh Dewa Zeus untuk mendorong batu besar dari dasar ke puncak bukit. Setelah batu besar itu didorong dengan susah payah sampai puncak bukit oleh Sisyphus, batu besar dan berat itu lalu menggelinding kembali ke bawah. Sisypus pun harus mengulang mendorong batu itu kembali ke atas. Kutukan itu nampak absurd dan susah.

Hidup manusia dalam benak Albert Camus nampak begitu; sekilas sia-sia dan absurd. Dan ada benarnya. Beberapa hari lalu, di media sosial ramai membahas orang-orang di daerah sekitaran Jakarta, terutama Bekasi dan Depok, yang berangkat pagi ke stasiun untuk bekerja. Mereka berangkat dini hari sebelum matahari pagi menyingsing. Sampai di stasiun, mereka masuk dalam kereta dengan desak-desakan. Menjelang pengujung pagi, kira-kira pukul 8.30, mereka masuk ke kantor. Mereka bekerja sampai sore hari dan pulang ke rumah pada larut malam. Hari berikutnya adalah pengulangan pola kerja yang sama: berangkat pagi, kerja sampai sore atau malam, lalu tiba di rumah dengan lelah.

Mereka, para pekerja dengan usia muda dan bergelar sarjana, menyebut ritme hidup demikian sebagai perjuangan mencari penghidupan. Penghidupan yang diperoleh dengan gaji dari bekerja hilir mudik ke Ibu Kota. Sayang, kenyataan penghidupan yang bahagia tak seutuhnya bisa dicapai. Penelitian yang dilakukan oleh Savvy Sleeper pada 2019 menyebut Jakarta menempati peringkat enam sebagai kota yang membuat orang burnout (kelelahan akibat pekerjaan). Orang-orang yang bekerja di kota dengan tekanan pekerjaan tinggi seperti di Jakarta sampai kesulitan untuk bisa tidur 7 jam perhari. Wealth Health Organization (WHO) bilang bahwa stres di tempat kerja bukan masalah remeh. Stres di tempat kerja atau burnout berpengaruh ke pengeluaran kesehatan dan fenomena kematian, bahkan berujung bunuh diri.

Sebagaimana rasa penasaran saat membaca kisah Sisyphus, timbul pertanyaan tentang apa yang bisa membuat orang-orang dalam jumlah banyak bertahan untuk bekerja siang malam. Albert Camus mengatakan dalam esainya If it were sufficient to love, things would be too easy. The more one loves the stronger the absurd grows”. Ya, alasannya tak lain karena cinta pada sesuatu.  Camus menyebut Sisyphus amat mencintai apa yang dia lakukan, meski absurd; mendorong batu besar dan berat seumur hidup. Sisyphus bahagia karena ia memiliki nasibnya sendiri. Nasib yang direpresentasikan dengan batu besar dan berat yang ia dorong. Camus menggambarkan Sisyphus bisa mendekatkan badan, wajah, dan tubuhnya dengan batu besar dan berat—sang nasib. Sisyphus adalah pengatur atau penentu dari apakah batu besar itu sampai ke puncak atau tidak. Sisyphus menunjukkan kepada Dewa Zeus bahwa dia mampu menggerakkan batu berat; menentukan nasibnya sendiri.

Ungkapan Camus bahwa cinta adalah daya yang menggerakkan manusia sampai melampaui nalar barangkali tepat. Memang cinta tak bisa selalu dijelaskan dengan presisi. Eric Fromm (1956) menyebut cinta sebagai seni, sama seperti musik, drama, atau teater. Dalam seni, ada yang tidak terduga, absurd, ketidakteraturan, tapi memacu. Cinta digerakkan oleh banyak daya. Bukan hanya oleh hasrat saling memiliki yang buta, tetapi dengan aneka dorongan; gairah, ethos, ketulusan, bahkan kerelaan mengalah. Cinta yang demikian bukan yang hadir dari rasa terpukau akan wajah yang rupawan semata, namun oleh kehendak tak terdefinisikan.

Sebagai penutup, ada video menarik yang diunggah oleh World Bank yang menceritakan pekerja yang setiap hari hilir mudik dari Bekasi ke Jakarta. Tokoh cerita bernama Budi, seorang pekerja hotel di Jakarta yang tinggal di Bekasi. Budi berangkat bekerja dari Bekasi ke Jakarta pukul 5 pagi. Tiga jam setelah berangkat dari rumah pukul 5 pagi itu, tepatnya pukul 8, Budi baru tiba di sebuah hotel tempatnya bekerja. Budi bekerja sampai malam dan menemui anaknya sudah tidur saat pulang.

Istri Budi sebagai ibu rumah tangga membantu Budi dengan cara merawat anak mereka. Istri Budi membelanjakan uang hasil kerja Budi dengan makanan bergizi bagi si anak. Bisa dibayangkan juga, upaya-upaya istri Budi menyiapkan semua keperluan Budi saat hendak berangkat, plus mendoakan keselamatan Budi. Sementara Budi, yang barangkali tak benar-benar tahu apa yang menjadi dasar mengapa ia berangkat dan pulang kerja seraya tak menatap matahari, terus bergerak. Bergerak bagai Sisyphus yang karena cintanya pada nasib terus mendorong batu besar nan berat ke atas bukit.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Efisiensi dari Waktu dan Bahasa

Manusia belajar dari kesalahan. Dengan memahami kegagalan masa lalu, kita bisa menghindari jatuh ke lubang yang sama. Atasan saya pernah mengkritik tulisan saya: terlalu berbunga-bunga, tidak langsung pada inti. “Kurang-lebih hampir seratus,” katanya, bisa disederhanakan menjadi “sekitar seratus.” Satu kata yang jelas lebih kuat daripada empat kata yang kabur. Saya sepakat. Bahasa yang boros hanya membuang waktu—bagi penulis maupun pembaca. Waktu, sama seperti bahasa, adalah sumber daya yang terbatas. Pembaca bukan orang yang senggang. Mereka ingin mendapatkan inti informasi dengan cepat. Kalau tulisan hanya berputar tanpa isi, mereka akan berhenti membaca. Pelajaran serupa saya dapatkan di luar tulisan. Di Jakarta, saya pernah terlambat hadir di sebuah rapat penting. Kesalahan sederhana, tidak menghitung waktu tempuh, tidak menyiapkan cadangan rencana, membuat saya datang empat puluh menit terlambat. Akibatnya, rapat kacau, atasan saya kecewa. Saat itu saya sadar: kelalaian mengatur w...

Catatan Selepas Kerja: Bertemu Driver Lulusan Jerman

Saya memesan grab car untuk pulang dari meeting malam ini dan saya beruntung. Saat naik grab car, saya dapat driver lulusan Jerman. Namanya Pak Junus. Sebelum kuliah di Jerman, Pak Junus menempuh sekolah SMA di Moskow.  Pak Junus mengambil konsentrasi studi multimedia. Saat banyak orang di tahun 1990-an awal belum mengamati media, Pak Junus sudah membahas multimedia sebagai disiplin ilmu. Pria yang sudah empat tahun menjadi driver grab car ini mengingat apa saja yang dibahas ketika dulu kuliah itu seperti tv dan radio. Tapi, Pak Junus tidak menyelesaikan kuliahnya. Dia keluar dari kampus pada semester empat. Ceritanya, saat dia pulang untuk liburan ke Indonesia, dia iseng melamar kerja di sebuah perusahaan sebagai sales dan diterima. Gajinya cukup besar, yaitu sekitar Rp1 juta per bulan. Beberapa tahun merintis karier, dia menjadi kepala cabang perusahaan. Gaji Pak Junus di medio tahun 1998 sampai awal tahun 2000 sekitar Rp7.5 juta.  Penyesalan datang terlambat. Pak Junus bila...

Pelajaran dari Penjual Bakso dan Penjual Sushi

  Saya bersama istri rutin berkunjung ke Wadaslintang, Wonosobo. Wadaslintang adalah daerah asal istri saya. Jaraknya kurang lebih 32 KM dari rumah kami yang berada di Wonosobo kota. Kegiatan kami ke Wadaslintang yang utama adalah mengunjungi orang tua istri. Ayah mertua saya bekerja sebagai salah satu pamong di desa, sementara ibu mertua bekerja sebagai guru SD negeri. Setiap   kali kami ke Wadaslintang, kami menyicip bakso legendaris yang ada di sana. Bakso itu tak lain tak bukan adalah bakso Pak Tutur Hernawan. Saat kami tanya sudah berapa lama berjualan bakso, Pak Tutur dengan rendah hati menjawab sudah sejak 1979 atau sekitar 45 tahun lalu. Awal mula Pak Tutur berjualan bakso, yaitu dengan mendorong gerobak keliling desa. Lalu setelah tiga tahun berdagang keliling, Pak Tutur memutuskan untuk berjualan di sebuah gubuk kecil berukuran 3 kali 3.5 meter di pinggir jalan. Ruangan yang tidak lebar itu mungkin hanya muat untuk sepuluh orang dewasa. Itu pun sudah bersesakan. Ga...