Manusia belajar dari kesalahan. Dengan memahami kegagalan masa lalu, kita bisa menghindari jatuh ke lubang yang sama.
Atasan saya pernah mengkritik tulisan saya: terlalu berbunga-bunga, tidak langsung pada inti. “Kurang-lebih hampir seratus,” katanya, bisa disederhanakan menjadi “sekitar seratus.” Satu kata yang jelas lebih kuat daripada empat kata yang kabur. Saya sepakat. Bahasa yang boros hanya membuang waktu—bagi penulis maupun pembaca.
Waktu, sama seperti bahasa, adalah sumber daya yang terbatas. Pembaca bukan orang yang senggang. Mereka ingin mendapatkan inti informasi dengan cepat. Kalau tulisan hanya berputar tanpa isi, mereka akan berhenti membaca.
Pelajaran serupa saya dapatkan di luar tulisan. Di Jakarta, saya pernah terlambat hadir di sebuah rapat penting. Kesalahan sederhana, tidak menghitung waktu tempuh, tidak menyiapkan cadangan rencana, membuat saya datang empat puluh menit terlambat. Akibatnya, rapat kacau, atasan saya kecewa. Saat itu saya sadar: kelalaian mengatur waktu sama buruknya dengan kelalaian dalam menulis.
Refleksi ini mengingatkan saya pada aliran sungai. Kita bisa berdiri di tepi sungai hanya menatap ikan, atau kita bisa melihat lebih jauh: ada pasir dan batu yang bernilai ekonomi. Demikian pula waktu. Kita bisa membiarkannya lewat begitu saja, atau kita bisa mengelolanya hingga memberi hasil.
Lalu, bagaimana cara membuat disiplin itu konkret? Jawabannya sederhana: buat SOP.
SOP Mengelola Waktu
-
Rencanakan: Tetapkan titik siap minimal dua jam sebelum acara.
-
Eksekusi: Pastikan lokasi dan sarana siap lebih awal, siapkan rencana cadangan.
-
Evaluasi: Catat penyebab keterlambatan, perbaiki sistem.
-
Disiplin: Ingat, waktu orang lain sama berharganya dengan waktu kita.
SOP Menulis Lugas
-
Tujuan: Tentukan pesan utama sebelum menulis.
-
Efisiensi: Pilih kata sederhana, hindari frasa bertele-tele.
-
Struktur: Awali dengan inti, beri penjelasan secukupnya, lalu simpulkan.
-
Revisi: Baca ulang dengan perspektif pembaca sibuk. Hapus yang tak perlu.
Akhirnya, pelajaran ini kembali ke satu hal mendasar: waktu. Waktu adalah aset paling berharga yang kita miliki. Mengelolanya dengan disiplin—baik dalam menulis maupun dalam hidup—adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain.
Komentar
Posting Komentar