Teman-teman sekantor memanggil saya Pak Camat. Pakaian batik yang saya kenakan membikin look saya nampak seperti Pak Camat beneran. Iya, Pak Camat yang gemar mengenakan batik untuk kerja sehari-hari di kantor kecamatan.
Sapaan itu menggema sejak awal saya masuk kantor. Didukung face saya yang memang lumayan baby (boomer) ini sudah pas rasanya saya dipasrahi gelar Pak Camat. Padahal datang ke kantor kecamatan saja jarang sekali.
Batik lengan panjang memang rutin sekali saya kenakan. Bukannya ada alasan apa di baliknya, tapi memang saya ini tak pandai memadu-padankan pakaian. Susah dalam pikiran saya, hari ini mengenakan baju warna apa atau jenis apa. Terus celananya kudu gimana. Bingung juga ya, ujar saya.
Beberapa ibu-ibu di kantor juga menyarankan untuk beli baju baru. Biar terlihat lebih muda. Ya minimal biar 1 tahun lebih muda. Sayang sekali saran itu belum terlaksana juga sampai sekarang.
Padahal di saat yang sama, saya juga tahu jika look atau penampilan itu penting. Citra sering mengalahkan apa saja yang sifatnya internal diri. Sepintar apa pun seseorang, akan kurang berguna jika look-nya tak meyakinkan. Kepintaran seseorang jadi muspra atau sia-sia soalnya secara penampilan kurang meyakinkan orang lain. Misalnya, untuk sekadar bekerjasama.
Coba saja tengok sejumlah profesi orang lain. Mereka dengan pede mengenakan kostum agar tetap meyakinkan. Dokter dengan jas putihnya. Pejabat dengan stelan jasnya. Seragam loreng bagi tentara. Dan lain sebagainya.
Mengingat Pak Camat saya jadi ingat sebuah novel karya Kuntowijoyo. Judul novelnya Pasar. Di Novel Pasar, jabatan Pak Camat lumayan terhormat. Ia membawahi lurah desa dan lurah pasar. Orang membungkuk-bungkuk jika ingin bertemu Pak Camat.
Tapi saya bukan Pak Camat yang jika di depannya orang kudu membungkukkan badan. Saya cuma Pak Camat yang seperti manusia biasa. Manusia yang bisa berbuat salah dalam bertindak. Manusia yang merasa sedih jika dihadapkan pada perpisahan.
Dan hari ini kita berpisah. Saya memilih jalan lebih lanjut. Tak semua teman-teman kantor saya pamiti. Hanya sebagian yang sempat saya pamiti.
Di antara yang sebagian itu; teman semeja saya. Yang paling disiplin dan giat bekerja. Yang setiap pagi saling berlomba datang lebih awal setelah tentu saja telat duluan. Mas, dimanapun kerjanya KPI kita sama. Ataukah perlu direvisi? Hahaha....
Teman divisi pemasaran yang sering menerima kunjungan kerja saya. Teman divisi operation yang tak jarang mendengar suara youtube komputer saya. Serta teman-teman IT yang ngampiri sholat.
Sebab keputusan sudah diambil, maka apalah daya. Saya memutuskan undur diri. Pak Camat memilih jadi juru ketik di rumah saja. Doa saya; semoga kantor megah di pinggir jalan itu semakin bersinar. Hilang gunda gulana dan awan mendung. Salam.
Komentar
Posting Komentar