Langsung ke konten utama

Pelajaran Investasi #1: Margin of Safety

 

Dalam buku The Intelligent Investor, Ben Graham menganjurkan seorang investor untuk memperhatikan margin of safety.  Margin of Safety adalah ruang aman bagi investor untuk membeli saham.  Ruang aman itu berasal dari nilai saham sesungguhnya (intrinsic value of stock) dikali dengan persentase aman (misalnya 70 persen).

Penerapannya dalam investasi adalah sebagai berikut:

seorang investor sedang mencari harga yang pas terhadap pembelian saham. Saham A saat ini nilai intrinsiknya adalah 1000 per lembar. Tetapi dengan menggunakan margin of safety, investor dianjurkan untuk membelinya pada harga 700 per lembar atau 70 persen dari nilai intrinsik.

Investor bisa mengantisipasi kesalahan dari perhitungan yang dilakukan ketika menentukan nilai intrinsik saham. Dengan membeli saham pada harga yang berada di margin of safety, kemungkinan rugi dalam investasi akan berkurang. Bukankah, investasi untuk untung ya bukannya rugi(?).

Apakah mudah mencari saham dengan memanfaatkan margin of safety ini?

Jawabannya adalah tidak mudah. Mencari nilai intrinsik sebuah saham saja itu tidak mudah. Banyak variabel yang digunakan untuk mengetahui nilai intrinsik sebuah saham. Kemudian, setelah nilai intrinsik ditemukan, maka nilai tersebut harus dikali dengan 70 persen agar pembelian aman (masuk margin of safety).

Setelah itu, kita akan membandingkannya dengan harga pasar. Saat kalkulasi margin of safety dari nilai intrinsik berada di atas harga pasar, maka saham tersebut termasuk undervalued. Sementara ketika sebaliknya yang terjadi, harga pasar berada di atas nilai intrinsik, maka namanya overvalued.

Mari Praktik!

Dalam kasus BMRI misalnya, nilai intrinsik BMRI pada tahun 2023 (q2 ke akhir 2023) adalah 5.050. Jika memanfaatkan margin of safety, maka kita membelinya ketika harga saham sudah berada di 3.500. Sampai dengan awal 2025, nilai saham BMRI selalu overvalued (5.300-5.800), oleh karena itu sebaiknya investor tidak membeli BMRI.

Kondisi berbeda terjadi pada saham BIRD. Saham BIRD memiliki nilai intrinsik 1.800, sementara nilai sahamnya 1.500-1.700. Taksiran nilai tersebut dirilis pada tahun 2023 dengan memanfaatkan data historis 2017 sampai 2022. Seolah undervalued, tetapi dengan berpegang teguh pada prinsip margin of safety, kita tidak boleh membelinya. Sebab, harga beli yang berada di margin of safety adalah 1.300.

Salah satu saham yang nilainya aman dalam analisis saya adalah AALI. Sekarang sahamnya kurang dari 7000 per lembar, tepatnya 6.175. Pada tahun 2013 yang lalu, nilai intrinsik saham ini adalah 21.000 atau bahkan 38 ribu. Sejak sepuluh tahun lalu sampai sekarang, nilai saham memang pernah naik di atas nilai intrinsik tersebut. Seandainya memakai margin of safety, maka pada harga pembelian berada di 13 ribu atau 26 ribu. Harga pasarnya sekarang adalah 6.150, sebuah harga yang murah sekali sebenarnya. Dilihat dari dividen juga aman, misalnya di atas rerata industri dan tumbuh.

Dengan nasihat margin of safety yang dianjurkan oleh Ben Graham, investor bisa membeli AALI karena berada dalam rentang margin of safety.

Catatan: tulisan ini tidak merekomendasikan siapa saja membeli saham tertentu!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Efisiensi dari Waktu dan Bahasa

Manusia belajar dari kesalahan. Dengan memahami kegagalan masa lalu, kita bisa menghindari jatuh ke lubang yang sama. Atasan saya pernah mengkritik tulisan saya: terlalu berbunga-bunga, tidak langsung pada inti. “Kurang-lebih hampir seratus,” katanya, bisa disederhanakan menjadi “sekitar seratus.” Satu kata yang jelas lebih kuat daripada empat kata yang kabur. Saya sepakat. Bahasa yang boros hanya membuang waktu—bagi penulis maupun pembaca. Waktu, sama seperti bahasa, adalah sumber daya yang terbatas. Pembaca bukan orang yang senggang. Mereka ingin mendapatkan inti informasi dengan cepat. Kalau tulisan hanya berputar tanpa isi, mereka akan berhenti membaca. Pelajaran serupa saya dapatkan di luar tulisan. Di Jakarta, saya pernah terlambat hadir di sebuah rapat penting. Kesalahan sederhana, tidak menghitung waktu tempuh, tidak menyiapkan cadangan rencana, membuat saya datang empat puluh menit terlambat. Akibatnya, rapat kacau, atasan saya kecewa. Saat itu saya sadar: kelalaian mengatur w...

Catatan Selepas Kerja: Bertemu Driver Lulusan Jerman

Saya memesan grab car untuk pulang dari meeting malam ini dan saya beruntung. Saat naik grab car, saya dapat driver lulusan Jerman. Namanya Pak Junus. Sebelum kuliah di Jerman, Pak Junus menempuh sekolah SMA di Moskow.  Pak Junus mengambil konsentrasi studi multimedia. Saat banyak orang di tahun 1990-an awal belum mengamati media, Pak Junus sudah membahas multimedia sebagai disiplin ilmu. Pria yang sudah empat tahun menjadi driver grab car ini mengingat apa saja yang dibahas ketika dulu kuliah itu seperti tv dan radio. Tapi, Pak Junus tidak menyelesaikan kuliahnya. Dia keluar dari kampus pada semester empat. Ceritanya, saat dia pulang untuk liburan ke Indonesia, dia iseng melamar kerja di sebuah perusahaan sebagai sales dan diterima. Gajinya cukup besar, yaitu sekitar Rp1 juta per bulan. Beberapa tahun merintis karier, dia menjadi kepala cabang perusahaan. Gaji Pak Junus di medio tahun 1998 sampai awal tahun 2000 sekitar Rp7.5 juta.  Penyesalan datang terlambat. Pak Junus bila...

Pelajaran dari Penjual Bakso dan Penjual Sushi

  Saya bersama istri rutin berkunjung ke Wadaslintang, Wonosobo. Wadaslintang adalah daerah asal istri saya. Jaraknya kurang lebih 32 KM dari rumah kami yang berada di Wonosobo kota. Kegiatan kami ke Wadaslintang yang utama adalah mengunjungi orang tua istri. Ayah mertua saya bekerja sebagai salah satu pamong di desa, sementara ibu mertua bekerja sebagai guru SD negeri. Setiap   kali kami ke Wadaslintang, kami menyicip bakso legendaris yang ada di sana. Bakso itu tak lain tak bukan adalah bakso Pak Tutur Hernawan. Saat kami tanya sudah berapa lama berjualan bakso, Pak Tutur dengan rendah hati menjawab sudah sejak 1979 atau sekitar 45 tahun lalu. Awal mula Pak Tutur berjualan bakso, yaitu dengan mendorong gerobak keliling desa. Lalu setelah tiga tahun berdagang keliling, Pak Tutur memutuskan untuk berjualan di sebuah gubuk kecil berukuran 3 kali 3.5 meter di pinggir jalan. Ruangan yang tidak lebar itu mungkin hanya muat untuk sepuluh orang dewasa. Itu pun sudah bersesakan. Ga...