Piala dunia sudah berakhir. Argentina keluar sebagai pemenang. Piala emas diangkat secara bergiliran oleh Timnas Argentina. Bahkan Messi mengecup piala emas itu sampai ke kasur. Dekapan Messi cukup erat. Wajar. Itulah kesempatan terakhir Messi memahkotai kepalanya dengan mahkota kemenangan, kata Romo Sindhunata.
Messi layak menerima kemenangannya di piala dunia 2022. Perjalanannya menuju kemenangan tidak mudah. Sudah 4 piala dunia ia lewati dengan tangan hampa. Messi dan timnya mentok hanya mendapat gelar Runner Up saja. Susah-payah Messi akhirnya terbayar. Gegap gempita warga Argentina menyambut Messi dan tim. Masyarakat Argentina hanyut dalam kegembiraan. Kegembiraan yang sangat dibutuhkan masyarakat di Argentina karena negeri di Amerika Selatan itu sedang tak baik-baik saja.
Inflasi Argentina secara year on year naik 82%. Harga barang di sana secara umum sudah melesat hampir dua kali lipat dibanding tahun lalu. Utang negara Argentina mencapai angka yang sudah sulit untuk diketik. CNBC menyebut utang Argentina mencapai Rp515 ribu triliun. Tak heran, Reuters mengawali berita tentang Argentina yang mengalami krisis ekonomi dengan gundah; Argentina's economic alaram bells are ringing loudly with fears...
Ketakutan karena ekonomi negara kacau adalah ketakutan yang nyata. Namun meski begitu, harapan harus datang dari sesuatu yang melebihi apa saja di sana termasuk melebihi politik. Hingga akhirnya di ujung 2022, jawaban itu tiba. Sepak bola menjadi penghiburan yang nyata. Di Argentina, sepak bola adalah segalanya. Rasa cinta masyarakat terhadap bola sudah menyentuh aspek paling emosional. Bola melebihi politik di Argentina, terang Romo Sindhu. Romo Sindhu melanjutkan, kalau pelatih sepak bola timnas sepakbola Argentina Lionel Scarlo kini punya popularitas lebih dibanding politisi, bahkan presiden sekalipun.
Mengapa rasa bahagia terhadap kemenangan timnas negaranya dalam pertandingan sepak bola di Argentina bisa begitu menggetarkan?
Saya menduga ada ketulusan yang jadi dasar antara warga dan timnas Argentina. Semua diawalk dengan dasar ketulusan. Dukungan warga terhadap timnas begitu tulus. Sampai-sampai oposisi politik meredam untuk sesaat tak berbicara politik. Jeda waktu dibuat untuk membicarakan bola saja. Di level massa, irama dukungan, tabuhan drum, dan aneka atribut sepak bola membahana. Sepak bola sudah jadi national pride. Ketulusan dari rakyat itu dibayar impas oleh timnas Argentina. Puasa 40 tahun akhirnya menemui ujungnya, yaitu kemenangan.
Lalu, saya jadi ingat sebuah kelas daring yang diisi oleh Dahlan Iskan. Dahlan menyebut karyawan akan bahagia saat dia diberi reward secara genuine oleh atasan. Reward diberikan tanpa pamrih apapun dari atasan adalah reward yang genuine. Atasan tak perlu menyertai reward dengan bilang harus meningkatkan kinerja. Dahlan bilang "sudah ini untuk kamu. Sudah waktunya kamu menerima ini". Yang dimaksud adalah mobil sebagai sarana dari kantor.
Biasanya akan muncul rasa bahagia. Rasa bahagia bisa memacu kinerja. Sudah otomatis begitu. Penelitian dari Harvard pun bilang kebahagiaan bisa memacu produktifitas. Produktifitas itu bisa diukur dengan naiknya sales 37%, produksi 31%, dan akurasi pekerjaan 19%. Kebahagiaan itu berasal dari ketulusan. Bukan sekadar lip service belaka.
Bola di Argentina mengajari kita tentang ketulusan. Jika rasa tulus sudah jadi dasar, maka hasilnya tak terkira bagusnya. Akan tetapi jika tercemar, dengan bahasa yang seolah sopan atau slogan semata, ujungnya adalah lip service. Lip service merupakan awal mula area abu-abu. Keruh.
Komentar
Posting Komentar