Langsung ke konten utama

Sewindu Setelah SMA

Saya baru pulang ke rumah pada malam hari sekitar pukul 23.00 WIB. Perjalanan malam ini lumayan tenang karena jalanan lengang. Jalan Kota Yogyakarta yang biasanya padat, pada malam ini, tak menunjukkan titik-titik kemacetan. 


Kelengangan jalan ini tak jarang justru membuat rasa was-was muncul. Isu begal belum lama ini mengemuka di Jogja. Pernah ada pengalaman tahun lalu bersebelahan dengan dua pengendara. Saya curiga mereka adalah begal. Pengendara depan berwajah lumayan sangar, badannya tambun, serta menatap jalan di depannya dengan mata fokus. Pembonceng menggenggam benda seperti pedang. Saya melipir di pinggir jalan untuk cari aman.


Ciri-ciri begal tak terlalu asing bagi saya. Waktu SMA, saya dulu bukan siswa baik-baik. Pernah sesekali ikut aksi keliaran seperti yang saat ini dikenal dengan klitihan. Tetapi bedanya dengan aksi begal atau klitih belakangan, saya dan teman-teman dulu tidak sembarang menebas orang yang lewat di pinggir jalan. 


Aksi kami dulu "hanya" sampai pada taraf kenakalan remaja. Paling cuma intimidasi atau sedikit lontaran jumrah di depan SMA lawan. Kami tidak sampai membunuh orang lain dengan cara keji. Setidaknya ada kekhawatiran nasib di masa depan jika berurusan dengan hukum.


Masa SMA lumayan nakal itu dilewati sudah sangat lama. Sewindu sudah saya lulus dari SMA. Kenangan-kenangan bersama teman sekolah masih sedikit bisa diingat kembali. Barangkali bukan hanya saya yang merasa kenangan masa SMA adalah momen nostalgia terasyik.


Grub Band Sheila On 7 membuat lagu "Kisah Klasik untuk Masa Depan". Chrisye menulis lagu dengan nada lirih tentang "Kisah Kasih di Sekolah." Endank Soekamti tak bisa dilupakan. Lagunya yang berjudul "Sampai Jumpa" jadi lagu wajib perpisahan anak SMA. Lagu terbaru untuk anak SMA belum lama ini rilis dan jadi hits di aneka platform media. Nama penyanyinya NIKI. Ia tinggal di Amerika Serikat. Judul lagunya anda sudab tahu: High School in Jakardah.


Novel karya Pidi Baiq yang judulnya Dilan, di dalamnya berisi kisah cinta remaja masa SMA. Dilan jadi novel laris sekali. Novel berseri itu bahkan sudah difilmkan dengan judul yang sama. Film dengan setting tempat di SMA yang lain juga ada. Ada Apa Dengan Cinta (AADC, tayang 2002) adalah yang paling memukau.


Di film AADC, sosok Cinta diperankan oleh Dian Sastro. Dian benar-benar bisa membawakan karakter Cinta dengan baik. Seorang siswi cerdas pemred mading sekolah yang tetap bisa menangis kehilangan sosok Rangga. 


Dian Sastro pun mengingat masa SMA-nya dengan mencantumkan Tarki sebagai judul di highligh story atau kumpulan story instagramnya. Saya meng-klik kumpulan foto itu dan tampillah foto-foto masa SMA mbak Dian Sastro. Dari situ saya jadi tahu Tarki adalah singkatan dari SMA Tarakanita. Mbak Dian memang sekolah di SMA Tarakanita.


Foto-foto Mbak Dian Sastro yang masih mengenakan seragam SMA tetap tersimpan rapi. Alangkah bahagianya mbak Dian saat sedang sepi bisa menonton foto-foto masa lalunya waktu masih SMA dulu. 


Beda dengan saya atau teman-teman saya. Foto masa SMA telah hilang tidak bersisa. Sesekali bisa menemukam foto masa SMA di facebook. Itu pun hanya foto yang alakadarnya. Kurang aestetik dibanding fotonya mbak Dian. Hush, ojo dibanding-bandingke. Lumayan menyesakkan lagi saat ingat masa SMA justru dari ditemuinya aksi begal.


Akhirnya, dengan meminjam lirik lagu Boedi Doremi, judulnya Mesin Waktu, saya ingin mengatakan "andai aku bisa, memutar kembali, aku akan mengubah takdir...". 


Ya sayang sekali Tuhan belum mengizinkan manusia menciptakan mesin waktu. Tuhan hanya membolehkan kita mengingat lewat ingatan yang justru jadi lebih indah sebab emosi kita tak pernah bisa utuh saat mengingat sesuatu. Kita memilih emosi bahagia. Ya Tuhan membuat kita bahagia dengan sederhana. Meski sudah sewindu lulus SMA.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Efisiensi dari Waktu dan Bahasa

Manusia belajar dari kesalahan. Dengan memahami kegagalan masa lalu, kita bisa menghindari jatuh ke lubang yang sama. Atasan saya pernah mengkritik tulisan saya: terlalu berbunga-bunga, tidak langsung pada inti. “Kurang-lebih hampir seratus,” katanya, bisa disederhanakan menjadi “sekitar seratus.” Satu kata yang jelas lebih kuat daripada empat kata yang kabur. Saya sepakat. Bahasa yang boros hanya membuang waktu—bagi penulis maupun pembaca. Waktu, sama seperti bahasa, adalah sumber daya yang terbatas. Pembaca bukan orang yang senggang. Mereka ingin mendapatkan inti informasi dengan cepat. Kalau tulisan hanya berputar tanpa isi, mereka akan berhenti membaca. Pelajaran serupa saya dapatkan di luar tulisan. Di Jakarta, saya pernah terlambat hadir di sebuah rapat penting. Kesalahan sederhana, tidak menghitung waktu tempuh, tidak menyiapkan cadangan rencana, membuat saya datang empat puluh menit terlambat. Akibatnya, rapat kacau, atasan saya kecewa. Saat itu saya sadar: kelalaian mengatur w...

Catatan Selepas Kerja: Bertemu Driver Lulusan Jerman

Saya memesan grab car untuk pulang dari meeting malam ini dan saya beruntung. Saat naik grab car, saya dapat driver lulusan Jerman. Namanya Pak Junus. Sebelum kuliah di Jerman, Pak Junus menempuh sekolah SMA di Moskow.  Pak Junus mengambil konsentrasi studi multimedia. Saat banyak orang di tahun 1990-an awal belum mengamati media, Pak Junus sudah membahas multimedia sebagai disiplin ilmu. Pria yang sudah empat tahun menjadi driver grab car ini mengingat apa saja yang dibahas ketika dulu kuliah itu seperti tv dan radio. Tapi, Pak Junus tidak menyelesaikan kuliahnya. Dia keluar dari kampus pada semester empat. Ceritanya, saat dia pulang untuk liburan ke Indonesia, dia iseng melamar kerja di sebuah perusahaan sebagai sales dan diterima. Gajinya cukup besar, yaitu sekitar Rp1 juta per bulan. Beberapa tahun merintis karier, dia menjadi kepala cabang perusahaan. Gaji Pak Junus di medio tahun 1998 sampai awal tahun 2000 sekitar Rp7.5 juta.  Penyesalan datang terlambat. Pak Junus bila...

Pelajaran dari Penjual Bakso dan Penjual Sushi

  Saya bersama istri rutin berkunjung ke Wadaslintang, Wonosobo. Wadaslintang adalah daerah asal istri saya. Jaraknya kurang lebih 32 KM dari rumah kami yang berada di Wonosobo kota. Kegiatan kami ke Wadaslintang yang utama adalah mengunjungi orang tua istri. Ayah mertua saya bekerja sebagai salah satu pamong di desa, sementara ibu mertua bekerja sebagai guru SD negeri. Setiap   kali kami ke Wadaslintang, kami menyicip bakso legendaris yang ada di sana. Bakso itu tak lain tak bukan adalah bakso Pak Tutur Hernawan. Saat kami tanya sudah berapa lama berjualan bakso, Pak Tutur dengan rendah hati menjawab sudah sejak 1979 atau sekitar 45 tahun lalu. Awal mula Pak Tutur berjualan bakso, yaitu dengan mendorong gerobak keliling desa. Lalu setelah tiga tahun berdagang keliling, Pak Tutur memutuskan untuk berjualan di sebuah gubuk kecil berukuran 3 kali 3.5 meter di pinggir jalan. Ruangan yang tidak lebar itu mungkin hanya muat untuk sepuluh orang dewasa. Itu pun sudah bersesakan. Ga...