Anjing menyalak di sekitar rumahku setiap malam. Aku berpikir
tiada maling di dusunku. Nyalaknya cukup keras. Nyalaknya juga cukup lama.
Belum lagi, setelah anjing usai menyalak, ada teriakan tetanggaku yang setiap
malam merobek kesunyian. Dia berteriak menuntut keadilan. Dia bertanya dimana
keadilan saat si A kaya mengapa si B miskin. Suaranya baru kelar setelah dia
lelah.
Aku yang terjaga sampai pagi mendengar dua suara itu. Nyalak
anjing yang curiga ada maling. Teriakan tetangga yang bertanya keadilan. Sayang
sekali hanya malam, batinku, yang mendengar mereka. Apalagi kini tiada lagi
kisah dewa bulan mampu mendengar maksud dari si anjing dan si tetangga katakan.
Bulan hanya menjalankan tugasnya. Business as ussual. Dia hanya menerima
sinar matahari lalu menyalurkannya ke bumi sebagian. Kadang-kadang, bulan juga
sibuk bersolek dengan bercermin ke laut.
Maling dan keadilan. Siapa batinku yang layak menjadi maling
keadilan hari ini? Semua dalam jumlah banyak menunjukkan solidaritasnya di
tengah wabah sampar ini. Mereka memberi apa yang mereka punya untuk yang lain.
Kalangan agama yang sering dikambing-hitamkan oleh karena ambivalensinya dengan
ilmu pengetahuan menunjukkan cahayanya bagi ummat. Agama menunjukkan jalan
terang, maksudnya toleransi, bagi ummat tentang cara beribadahnya. Semuanya
baik-baik saja.
Seandainya saya punya ilmu berdiskusi dengan anjing. Mungkin
saja saya akan tahu siapa si maling. Mungkin saja kalau saya sedikit berani
menemui tetangga saya, keadilan macam apa yang dikehendakinya akan saya
ketahui.
Saya memutuskan untuk mengenang sebuah cerita dari “Anak Bajang
Menggiring Angin” karya Sindhunata (2017). Dalam novel itu, terutama di bagian
akhirnya, kejahatan tidak akan pernah mati. Keabadian kejahatan tergambar oleh
tidak akan matinya Rahwana karena memiliki aji pancasona dari Resi Subali.
Rahwana masih hidup dan abadi meski dia telah ditimbun oleh Anoman dengan
gunung. Karena aji pancasona, Rahwana dicintai oleh bumi dan saking cintanya
bumi, kematian Rahwana ditangguhkan.
Kejahatan itu abadi. Tentu itu tak menjawab siapa maling atau
bakal calon maling yang dirisaukan si anjing. Rahwana tak mampu melakukan
kejahatannya lagi. Bala tentaranya telah tumpas. Mungkinkah manusia yang lain?
Yang menikmati perkembangan industri 4.0 bisa jadi maling? Mungkinkah
pemuda-pemudi yang aktif bersosial sampai butuh lebih dari satu akun sosial
media itu menjadi maling dan abai pada keadilan? Saya tak yakin mereka mau
menjadi ahli waris kejahatan Rahwana, bekas presiden Alengka itu.
Berbagai kemungkinan yang ada di benak saya itu masihlah
kemungkinan. Sesuatu yang belum pasti. Masih butuh acc Tuhan Yang Maha Esa.
Sebentar-sebentar, anjing yang menyalak keras tadi berlari. Dia
berlari kencang. Dia nampak menggigit seseorang. Orang yang digigit tadi
berteriak minta ampun. Karena perbedaan bahasa, antara anjing dan manusia,
mereka tak menemukan akhir perkelahian.
Esok harinya baru aku tahu. Anjing semalam menggigit tetangga
saya yang berteriak tentang keadilan. Si anjing menggigit telinga si tetangga
saya hingga tak menyisakan apa-apa. Ternyata saya salah sangka. Anjing tadi
malam merasa terganggu oleh si tetangga saya. Dan dari cerita tetangga saya,
dia bilang setiap malam dia berteriak keadilan memang untuk menyindir si
pemilik anjing. Yang kayanya bukan main.
Komentar
Posting Komentar