Saya hidup di desa yang masih asri di selatan Jogja. Dulu
ada banyak pohon bambu di tempatku tinggal. Setiap sore, selepas waktu ashar,
pohon bambu yang tertiup angin akan menimbulkan suara berdecit yang lumayan
keras. Di kebon yang banyak pohon bambunya itu, waktu saya kecil, bersama
dengan teman-teman, saya sering bermain petak umpet. Rumpun bambu menjadi
tempat persembunyian yang sering dituju. Rumpun bambu yang rungkut bisa menutupi
keberadaan bocah-bocah kecil seperti kami saat main petak umpet.
Permainan lain yang sering kami mainkan dulu adalah
bong-bongan atau meriam bambu. Permainan itu juga memanfaatkan pohon bambu. Batang bambu yang panjang itu dipotong sekitar satu
meter lebih sedikit. Ruas-ruas bambu kemudian dibolong dengan linggis, kecuali bagian
ujungnya. Cara memainkannya adalah dengan memasukkan minyak tanah ke dalam
rongga bambu yang sudah dilubangi antar ruasnya. Setelah itu, ada lubang kecil
di ujung yang dibuat dengan gergaji. Lewat lubang kecil itu, api dari korek
atau obor disulutkan ke lubang kecil. Suara “bong” akan tercipta. Suara itu seperti
meriam yang siap melontarkan peluru ke arah lawan.
Fungsi pohon bambu begitu banyak. Selain sebagai alat
permainan bagi bocil-bocil seperti kami dulu, ternyata pohon bambu bisa
digunakan untuk bahan baku kerajinan. Pengrajin bisa mendapatkan penghasilan
setelah mengolah pohon bambu menjadi kerajinan seperti kursi, anyaman, atau
meja. Kerajinan dari bambu itu bisa dijual ke dalam negeri atau bahkan diekspor
ke luar negeri. Fungsi pohon bambu lainnya adalah sebagai bahan makanan. Rebung
atau bambu muda bisa diolah jadi masakan. Simbahku sampai sekarang masih
mengolah rebung untuk dijadikan pendamping nasi.
Fungsi bambu lainnya begitu banyak. Saking banyaknya Prof
Cecep Sumarna (dalam Teologi Bisnis, 2017) pernah mengisahkan kalau bambu sebagai pohon paling bermanfaat
bagi manusia. Manfaat bambu bahkan melebihi pohon kelapa yang dijadikan simbol
pramuka. Bentuknya yang indah enak dipandang. Daunnya yang lebat memberi
kesejukan. Bambu juga memiliki nilai filosofi berupa keikhlasan. Seperti kerelaan bambu saat dirinya
dipotong dan ruasnya dilubang guna menjadi pipa irigasi bagi sawah petani. Air
disalurkan dengan pipa bambu dari sungai ke sawah. Pesan dari prof Cecep adalah
jadilah manusia yang bermanfaat seperti bambu. Enak dipandang dan
memberi manfaat dari setiap bagian tubuhnya. Bahkan sampai memberi kerelaan
berkorban bagi orang lain.
Komentar
Posting Komentar