Kita baru saja memperingati Hari Angkutan Nasional pada 24 April 2026. Momen tersebut dirayakan dengan suka-cita oleh insan angkutan umum di tanah air. Sebagai contoh, Transjakarta memasang tarif Rp1 bagi masyarakat yang memanfaatkan moda layanan Transjakarta. Tujuannya agar publik merasa lebih akrab dan dekat dengan moda transportasi angkutan umum. Kalau sudah akrab, maka masyarakat akan beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum, sehingga kemacetan dan polusi bisa berkurang.
Publik atau masyarakat mengapresiasi pemerintah dalam aspek
layanan transportasi publik. Apresiasi publik itu terpotret pada survei yang dilakukan
oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, pada awal April 2026.
ITS melakukan survei terhadap sample berjumlah 5.105 responden dari 26 provinsi.
Riset tersebut menghasilkan temuan bahwa kereta api menjadi moda dengan
kepuasan tertinggi (94,30), disusul oleh angkuran jalan (84.5), angkutan udara
(82.12), angkutan laut (81.78), dan penyeberangan (77.48).
Hasil tinggi terhadap layanan kereta api menjadi
memprihatinkan setelah kejadian kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur
pada Senin (27 April 2026) pukul 20.55 malam. Insiden itu melibatkan KA Argo
Bromo Anggrek rute Gambir Pasarturi Surabaya dengan KRL Commuter Line. Dalam
video yang beredar di media sosial, terlihat gerbong kereta yang rusak parah
(ringsek). Berdasarkan pantauan media Jawa Pos, PT KAI belum memberikan
pernyataan resmi. Sementara dari Kompas.id, sejumlah hal dilakukan oleh direksi
PT KAI, seperti menyediakan armada evakuasi dan menutup Stasiun Bekasi Timur
untuk sementara waktu.
Empat Belas Orang Tewas
Empat belas orang tewas dalam kecelakaan antara KA Argo
Bromo dan KRL Commuter Line. Korban tewas berasal dari penumpang KRL Commuter
Line. Selain memakan korban meninggal dunia, insiden naas itu juga mengakibatkan
79 orang harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat penanganan yang lebih
serius. Sampai dengan Selasa (28 April 2026) pagi, petugas masih mengevakuasi
korban yang terjebak di dalam KRL.
Media menuliskan sejumlah anggota keluarga penumpang yang
menjadi korban mulai berdatangan di Stasiun Bekasi Timur. Keluarga korban yang
datang di lokasi menerima kabar terkait tabrakan itu dan berharap keluarga
mereka selamat. Salah satunya keluarga dari korban atas nama Febriani Nurul
(26). Adik korban, Azzahra, menerima kabar kakaknya berada di kereta yang
mengalami kecelakaan. Nurul dikabarkan selamat dari kecelakaan, meski dirinya
masih terjebak dalam KRL yang ringsek akibat tertabrak KA Argo Bromo.
PT KAI membangun pos layanan tanggap darurat dan memperbarui
informasi secara berkala terkait dengan kejadian kecelakaan kereta di Stasiun
Bekasi Timur. Selain PT KAI, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan juga
mendorong evakuasi dengan lebih cepat.
"Kemenhub (Kementerian Perhubungan) memastikan evakuasi dilakukan secara cepat dengan mengutamakan keselamatan korban terdampak," kata Dudy dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa dini hari[1].
Pelajaran Bersama
Merujuk pada kronologi kejadian, kereta api mengalami
kecelakaan yang terbagi dalam dua bagian berdekatan. Bagian pertama dari
insiden Senin malam adalah tertabraknya mobil online oleh KRL dengan nomor kode
5181 di salah satu jalur rel. Selang beberapa saat, KRL 5568a yang berhenti di jalur
sebelah kejadian kecelakaan KRL menabrak mobil, tertabrak oleh KA Argo Bromo.
Sebagai gambaran, jumlah rel di Stasiun Bekasi Timur berjumlah dua setelah dari
Stasiun Tambun jumlahnya ada empat jalur rel. Jadi, setelah melewati Stasiun
Tambun, kereta akan merapat pada salah satu dari dua jalur.
Berdasarkan kronologi dan media yang meliput insiden tersebut,
sistem kondisi darurat sudah berjalan tetapi tidak efektif. Bagian komando PT
Kereta Api sudah mengirim sinyal bagi KRL 5568a dan KA Argo Bromo untuk
hati-hati karena KRL 5181 mengalami kecelakaan. Saat KRL 5568a berhenti di
dekat kecelakaan KRL 5181, dari belakang KA Argo Bromo masih melaju hingga
menyeruduknya. Sebagai gerbong paling belakang, yaitu gerbong prioritas bagi
perempuan, insiden ini menyebabkan korban paling banyak perempuan.
Selain sistem informasi, portal pengaman di jalur-jalur
kereta api juga harus ditambah dari segi jumlah dan efektifitas. Stasiun Bekasi
Timur berada di pemukiman penduduk yang ramai. Adanya mobil taksi online yang
menerobos menjadi insiden terhadap pengamanan jalur kereta api.
Duka yang menyelimuti insiden kecelakaan KA Argo Bromo dan
KRL Commuter Line menjadi pelajaran bersama bahwa sistem penanganan situasi
krisis harus disiapkan. Sistem informasi harus bersifat tegas dan menyeluruh
bagi kereta yang ada di sekitar lokasi kecelakaan. Jangan sampai berhenti pada
satu kereta, sementara kereta lainnya masih berjalan. Jangan sampai apresiasi
publik yang sudah tinggi pada moda transportasi kereta api mengalami kekecewaan
karena insiden kecelakaan.
[1] Berita
ini telah tayang di Koran Jakarta dengan judul Menhub
Dudy Purwagandhi Turun Tangan, Evakuasi Maut Bekasi Timur Dipercepat, KNKT
Mulai Investigasi
Komentar
Posting Komentar