Langsung ke konten utama

Keajaiban

 

Sudah hampir 3 bulan saya bekerja di sebuah klinik kecantikan di Jogja. Saya bekerja sebagai RnD Specialist. Sebuah jabatan yang kurang jelas, tapi terasa pas bagi orang yang memang samar-samar arah hidupnya ini. Barangkali klop antara job dan orangnya. Orang-orang menyebutnya the right man on the right place.

Saya ingin bercerita bukan tentang pekerjaan. Sebab sudah jamak orang tahu, bekerja itu ya begitu-begitu saja. Bondan Winarno dulu pernah menulis bahwa bekerja itu merupakan kerelaan seseorang untuk menderita demi tercapainya sesuatau yang diinginkan; uang, prestige, etc.

Bagi saya yang menarik selama 2 bulanan ini adalah perubahan orientasi seseorang berkat perubahan aktifitasnya. Ketika kuliah dulu, saya teramat semangat membicarakan isu terbaru yang tengah hangat. Buku-buku yang ada di rumah, meski lamat-lamat, masih saya buka untuk dibaca.

Namun sekarang rasanya beda sekali. Saya mulai tak ada waktu dan energi untuk sekadar membaca. Tapi perubahan lain ternyata juga muncul. Sebuah perubahan yang tak saya mau, seorang teman pernah bilang kalau saya jadi ambisius akan uang. Saat memulai sebuah pembicaraan dengan saya, target memperoleh uang pasti terselip sebagai bahasan. Jika boleh jujur, rasanya memang iya. Saya merasakannya.

Di tengah perubahan itu saya jadi menerka apa yang sebenarnya terjadi. Apa mungkin benar, begitu?

Jika benar tentu saya ingin meminta maaf. Menjadi individu yang money oriented adalah jauh dari bayangan hidup saya. Ucapan bahwa semua hal butuh uang adalah kalimat yang tidak real bagi saya. Saya yakin konsep uang tak akan mampu mewadahi semua realita transaksi dan interaksi orang di bumi.

Contoh kecilnya, relasi orang tua (ibu) dan anak. Orang tua menyekolahkan anaknya tak mungkin menggunakan perspektif investasi atau return on investment. Betapa stresnya kedua belah pihak, si anak dan si ibu, jika relasi di antara keduanya adalah transaksional. Apalagi jika si anak berperilaku seperti saya dulu. Ga berprestasi amat, nakal iya. Namun Ibu saya selalu ada dan ada.

Saya hanya ingin memberi point of view saja. Point of view dari seorang yang masih percaya keajaiban yang penuh makna. Seperti film Top Guns (2022) kemarin yang saya tonton. Aktor utama, Tom Cruise, bilang “kita (tim penerbang pesawat) butuh dua keajaiban agar misi berhasil”. Misi bagi tim beranggotakan tantara terbaik itu teramat sulit. Mereka harus menembak tepat sebuah tambang uranium yang sedianya akan digunakan oleh negara yang berbahaya untuk tujuan yang buruk bagi dunia. Rintangan untuk dapat melesatkan peluru tepat ke titik sasaran sangat banyak. Pesawat musuh, tembakan darat, kehabisan oksigen di derajat tertentu, hingga curamnya pegunungan.

Namun keajaiban dari film itu terjadi. Pesawat yang dikemudikan Tom Cruise memang tertembak. Pesawatnya jatuh dan ia diincar oleh tentara musuh dengan peralatan tempur lengkap. Keajaiban tiba. Tom Cruise bisa selamat dengan mengambil alih pesawat tua di sebuah hanggar yang ada di markas lawan. Pesawat lawas yang teknologinya teramat jadul. Keajaiban terjadi tanpa disangka. Sebelumnya, pesawat Tom Cruise bisa tertembak karena ia nekat menyelamatkan juniornya. Cruise akhirnya berhasil. Keajaiban terjadi.

Tanpa rencana yang matang memang tujuan tidak tercapai, tetapi tanpa keajaiban tujuan yang dicapai hanyalah tujuan biasa.

Oleh karena itu, bagi saya, ketika saya membicarakan semata uang belakangan ini, saya jadi khawatir. Sebab saya hanya akan jadi orang dengan tujuan biasa. Sebab tujuan itu hanya berasal dari rasio saya yang tak seberapa dan kadang tumpul. Maka dari itu saya enggan jadi orang yang money oriented, saya masih percaya keajaiban. Percaya dan butuh banyak keajaiban.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Efisiensi dari Waktu dan Bahasa

Manusia belajar dari kesalahan. Dengan memahami kegagalan masa lalu, kita bisa menghindari jatuh ke lubang yang sama. Atasan saya pernah mengkritik tulisan saya: terlalu berbunga-bunga, tidak langsung pada inti. “Kurang-lebih hampir seratus,” katanya, bisa disederhanakan menjadi “sekitar seratus.” Satu kata yang jelas lebih kuat daripada empat kata yang kabur. Saya sepakat. Bahasa yang boros hanya membuang waktu—bagi penulis maupun pembaca. Waktu, sama seperti bahasa, adalah sumber daya yang terbatas. Pembaca bukan orang yang senggang. Mereka ingin mendapatkan inti informasi dengan cepat. Kalau tulisan hanya berputar tanpa isi, mereka akan berhenti membaca. Pelajaran serupa saya dapatkan di luar tulisan. Di Jakarta, saya pernah terlambat hadir di sebuah rapat penting. Kesalahan sederhana, tidak menghitung waktu tempuh, tidak menyiapkan cadangan rencana, membuat saya datang empat puluh menit terlambat. Akibatnya, rapat kacau, atasan saya kecewa. Saat itu saya sadar: kelalaian mengatur w...

Catatan Selepas Kerja: Bertemu Driver Lulusan Jerman

Saya memesan grab car untuk pulang dari meeting malam ini dan saya beruntung. Saat naik grab car, saya dapat driver lulusan Jerman. Namanya Pak Junus. Sebelum kuliah di Jerman, Pak Junus menempuh sekolah SMA di Moskow.  Pak Junus mengambil konsentrasi studi multimedia. Saat banyak orang di tahun 1990-an awal belum mengamati media, Pak Junus sudah membahas multimedia sebagai disiplin ilmu. Pria yang sudah empat tahun menjadi driver grab car ini mengingat apa saja yang dibahas ketika dulu kuliah itu seperti tv dan radio. Tapi, Pak Junus tidak menyelesaikan kuliahnya. Dia keluar dari kampus pada semester empat. Ceritanya, saat dia pulang untuk liburan ke Indonesia, dia iseng melamar kerja di sebuah perusahaan sebagai sales dan diterima. Gajinya cukup besar, yaitu sekitar Rp1 juta per bulan. Beberapa tahun merintis karier, dia menjadi kepala cabang perusahaan. Gaji Pak Junus di medio tahun 1998 sampai awal tahun 2000 sekitar Rp7.5 juta.  Penyesalan datang terlambat. Pak Junus bila...

Pelajaran dari Penjual Bakso dan Penjual Sushi

  Saya bersama istri rutin berkunjung ke Wadaslintang, Wonosobo. Wadaslintang adalah daerah asal istri saya. Jaraknya kurang lebih 32 KM dari rumah kami yang berada di Wonosobo kota. Kegiatan kami ke Wadaslintang yang utama adalah mengunjungi orang tua istri. Ayah mertua saya bekerja sebagai salah satu pamong di desa, sementara ibu mertua bekerja sebagai guru SD negeri. Setiap   kali kami ke Wadaslintang, kami menyicip bakso legendaris yang ada di sana. Bakso itu tak lain tak bukan adalah bakso Pak Tutur Hernawan. Saat kami tanya sudah berapa lama berjualan bakso, Pak Tutur dengan rendah hati menjawab sudah sejak 1979 atau sekitar 45 tahun lalu. Awal mula Pak Tutur berjualan bakso, yaitu dengan mendorong gerobak keliling desa. Lalu setelah tiga tahun berdagang keliling, Pak Tutur memutuskan untuk berjualan di sebuah gubuk kecil berukuran 3 kali 3.5 meter di pinggir jalan. Ruangan yang tidak lebar itu mungkin hanya muat untuk sepuluh orang dewasa. Itu pun sudah bersesakan. Ga...