Langsung ke konten utama

Basa-Basi

 Saya mengisi penuh tangki bensin motor saya semalam dengan pertamax turbo. Pertamax turbo adalah jenis bahan bakar termahal yang disediakan oleh Pertamina. Harganya Rp14.500 untuk satu liter. Dan benar, performa motor saya jadi lebih bagus. Rasanya seperti ada malaikat mendorong saya dari belakang yang membuat laju motor saya jadi lebih cepat.

Sampai di rumah, saya tak segera tidur. Ada satu tugas yang setiap malam mesti saya tunaikan. Tugas itu adalah mengambil koran di bangku teras rumah. Mengambil koran di bangku teras nampak tak layak disebut sebagai tugas, ya. Sebab sebenarnya yang menjadi tugas adalah memberi salam dan melempar percakapan kecil dengan bapak.

Bapak setiap malam pasti duduk di teras rumah sambil memainkan HP-nya seraya mendengar radio. Radio dimainkannya dengan volume sedang. Siaran yang ia dengar hanya wayang kulit semalam suntuk.

Kembali pada memberi salam dan percakapan kecil ke bapak. Biasanya saya bertanya singkat “wis do turu?” atau “sudah pada tidur?” Lalu, bapak menjawab sudah. Bapak kemudian membalas bertanya atau bercakap ringkas. Bapak mengawali percakapan dengan bertanya “ora udan, mas?” atau “tidak hujan, mas?” Maksudnya adalah apakah saya kehujanan di jalan atau tidak selama perjalanan pulang.

Saya kemudian menjawab tidak. Setiap malam interaksi yang terjadi di antara kami seperti itu. Dulu saat bapak masih sering keluar rumah pas malam hari, sementara saya masih kuliah, sayalah yang bertugas membukakan pintu. Namun sekarang kebalikannya, saya jadi yang sering pulang malam setelah kerja yang disambung dengan makan malam. Bapak yang menunggu saya di teras. Bapak menunggu di teras di dekat pintu yang sengaja dibiarkan dibuka.

Peran kami memang sekilas bertukar beberapa bulan ini, namun perilaku menyapa dan bercakap ringkas tetap menjadi tugas bagi masing-masing kami. Tugas yang bisa dibilang remeh, tetapi wajib ditunaikan. 

Saling menyapa dan bercakap ringkas kini (atau memang sejak dulu) bersinonim dengan basa-basi. Di tempat kerja saya sudah tak terbilang lagi menyapa dan bercakap kecil yang serupa terjadi antara saya dan bapak setiap malam. Basa-basi ini sepertinya remeh, tapi penting. Hal kecil tapi krusial, seperti baut di plat nomor kendaraan motor. Jika hilang, maka laju motor akan bergelotek tidak nyaman.

Beberapa orang tidak merasa nyaman dengan basa-basi seperti itu. Menyapa dan bercakap kecil dianggap tidak penting. Lebih jauh, mereka menghendaki suasana kerja yang terbuka untuk berdebat tentang ide di kepala mereka. Bagi mereka dialog atau berdebat dapat melahirkan terobosan besar bagi perusahaan. Lantas setelah berdebat, mereka berharap bahwa hubungan sosial tetap baik-baik saja. Meskipun mereka juga sadar hal itu sulit terjadi di organisasi perusahaan yang mengusung iklim budaya sopan-santun (red: basa-basi).

Saya sendiri berpendapat sedikit berbeda terhadap rekan-rekan kerja yang memiliki ide demikian. Saya menganggap basa-basi merupakan tugas wajib, sekalipun itu tidak penting. Sama seperti peran baut di plat nomor yang menjaga agar plat terpasang dengan baik. Jika plat terpasang dengan baik, maka laju berkendara motor dapat mulus tanpa suara bergelotek.

Saya teringat motor saya yang diisi pertamax turbo semalam. Yang melaju seperti didorong malaikat. Jika plat nomornya tidak dibaut, barangkali saya akan melaju dengan lambat meski sudah mengisi tangka bensin dengan pertamax turbo. Saya tak bisa melaju dengan suara bergelotek akibat tidak ada baut di bagian plat nomor. Ya, malaikat enggan mendorong saya sebab baut platnya lepas hingga ada suara bergelotek.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Efisiensi dari Waktu dan Bahasa

Manusia belajar dari kesalahan. Dengan memahami kegagalan masa lalu, kita bisa menghindari jatuh ke lubang yang sama. Atasan saya pernah mengkritik tulisan saya: terlalu berbunga-bunga, tidak langsung pada inti. “Kurang-lebih hampir seratus,” katanya, bisa disederhanakan menjadi “sekitar seratus.” Satu kata yang jelas lebih kuat daripada empat kata yang kabur. Saya sepakat. Bahasa yang boros hanya membuang waktu—bagi penulis maupun pembaca. Waktu, sama seperti bahasa, adalah sumber daya yang terbatas. Pembaca bukan orang yang senggang. Mereka ingin mendapatkan inti informasi dengan cepat. Kalau tulisan hanya berputar tanpa isi, mereka akan berhenti membaca. Pelajaran serupa saya dapatkan di luar tulisan. Di Jakarta, saya pernah terlambat hadir di sebuah rapat penting. Kesalahan sederhana, tidak menghitung waktu tempuh, tidak menyiapkan cadangan rencana, membuat saya datang empat puluh menit terlambat. Akibatnya, rapat kacau, atasan saya kecewa. Saat itu saya sadar: kelalaian mengatur w...

Catatan Selepas Kerja: Bertemu Driver Lulusan Jerman

Saya memesan grab car untuk pulang dari meeting malam ini dan saya beruntung. Saat naik grab car, saya dapat driver lulusan Jerman. Namanya Pak Junus. Sebelum kuliah di Jerman, Pak Junus menempuh sekolah SMA di Moskow.  Pak Junus mengambil konsentrasi studi multimedia. Saat banyak orang di tahun 1990-an awal belum mengamati media, Pak Junus sudah membahas multimedia sebagai disiplin ilmu. Pria yang sudah empat tahun menjadi driver grab car ini mengingat apa saja yang dibahas ketika dulu kuliah itu seperti tv dan radio. Tapi, Pak Junus tidak menyelesaikan kuliahnya. Dia keluar dari kampus pada semester empat. Ceritanya, saat dia pulang untuk liburan ke Indonesia, dia iseng melamar kerja di sebuah perusahaan sebagai sales dan diterima. Gajinya cukup besar, yaitu sekitar Rp1 juta per bulan. Beberapa tahun merintis karier, dia menjadi kepala cabang perusahaan. Gaji Pak Junus di medio tahun 1998 sampai awal tahun 2000 sekitar Rp7.5 juta.  Penyesalan datang terlambat. Pak Junus bila...

Pelajaran dari Penjual Bakso dan Penjual Sushi

  Saya bersama istri rutin berkunjung ke Wadaslintang, Wonosobo. Wadaslintang adalah daerah asal istri saya. Jaraknya kurang lebih 32 KM dari rumah kami yang berada di Wonosobo kota. Kegiatan kami ke Wadaslintang yang utama adalah mengunjungi orang tua istri. Ayah mertua saya bekerja sebagai salah satu pamong di desa, sementara ibu mertua bekerja sebagai guru SD negeri. Setiap   kali kami ke Wadaslintang, kami menyicip bakso legendaris yang ada di sana. Bakso itu tak lain tak bukan adalah bakso Pak Tutur Hernawan. Saat kami tanya sudah berapa lama berjualan bakso, Pak Tutur dengan rendah hati menjawab sudah sejak 1979 atau sekitar 45 tahun lalu. Awal mula Pak Tutur berjualan bakso, yaitu dengan mendorong gerobak keliling desa. Lalu setelah tiga tahun berdagang keliling, Pak Tutur memutuskan untuk berjualan di sebuah gubuk kecil berukuran 3 kali 3.5 meter di pinggir jalan. Ruangan yang tidak lebar itu mungkin hanya muat untuk sepuluh orang dewasa. Itu pun sudah bersesakan. Ga...