Langsung ke konten utama

Mahkota Black Berry

Ketika banyak teman SMA saya dulu membeli hp black berry (BB), saya tak ikut-ikutan. Pada kisaran tahun 2011-an itu dulu, saya setia pada hp biasa yang dulu awalnya bermerk Nokia, lantas ganti merk China. Banyak teman yang sangat senang memakai hp BB saat itu. Kesenangan itu timbul mulai dari bisa tukar pin BB, tahu status teman, sampai keypad-nya yang qwerty.


Black berry perlu diakui memang pionir. Ia layak memperoleh perhatian banyak orang atau konsumen hp. Tapi pasar tetaplah pasar, inovasi baru menggoyang kemapanan. Black berry akhirnya digeser dan dilupakan. Black berry jadi dikubur dalam satu liang lahat bersama hp jadul lainnya; Nokia dll.

Kesementaraan adalah sesuatu yang kekal di dunia sekapitalis dan semodern seperti saat ini. Manusia dituntut untuk update. Lupakan the story of yesterday dan ganti dengan the story of tommorow.

Keinginan untuk memenuhi tuntutan agar update di era modern, sering juga disebut era digital, persis seperti ketika calon penumpang kereta mengejar jam berangkat kereta. Si penumpang sudah membeli tiket kereta pagi esok hari, maka mau tak mau dia sudah harus bersiap sebelum waktu kereta berangkat. Jika terlambat, maka agendanya akan kacau.

Tapi, story of tommorow atau cerita masa depan sering absurd. Absurditas itu lahir misalnya bagaimana orang-orang menautkan nilai tambah pada sesuatu yang tak memiliki fungsi real. Sebagai contoh adalah produk gambar-gambaran yang bertaut atau ditautkan dengan mata uang digital. Dan, mata uang digital itu sendiri masih sangat rancu intrinsic value-nya. Gambar itu disebut NFT dan perlu diakui itu memang unik, tapi adakah kurasi bagi karya itu hingga layak diberi nilai tinggi? Ataukah hanya fenomena fad (gejala pasar yang abnormal)?

Selain NFT, tidak jarang ditemui iklan investasi. Iklan investasi yang tagline-nya memberi return konstan sehari sekian persen. Padahal, instrumen investasi itu tidak akan sepasti itu memberi keuntungan. Instrumen investasi saham hanya memberi untung dari dividen atau capital gain. Itu pun jarang sekali perusahaan membagi dividennya. Instrumen investasi reksadana juga tergantung reksadana jenis apa.

Beragam produk pada masa lalu memang perlahan silih berganti. Awalnya memang sulit menyangka produk ternama seperti Nokia atau Toshiba hilang dari Indonesia. Lha wong belum sampai satu dekade yang lalu, saya amat gandrung dengan hand phone merk Nokia dan laptop merk Toshiba. Hingga akhirnya saya membeli kedua produk itu di pusat berbelanjaan elektronik.

Fisiknya yang awet dan fungsinya yang optimal membikin saya sebagai konsumen dengan antusias mencari dan membeli produk itu. Akan tetapi, persaingan produk elektronik semakin gencar. Nokia dan Toshiba kalah telak, setidaknya di Indonesia.

Mereka, produk yang ditinggalkan itu, memang kalah dan telah masuk liang lahat. Namun meski begitu, mereka telah memberi kesan. Mereka memberi nilai real bagi umat manusia. Menukil headline Kompas pada awal tahun ini; Konten adalah raja hanya saat kita memberikan mahkotanya. Produk zaman dulu layak diberi mahkota. Maaf, sementara saat ini, banyak sekali hal yang memperoleh mahkota. Hanya saja, mahkota itu kadang diberikan tanpa kesadaran kita, si pemilik mahkota.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Efisiensi dari Waktu dan Bahasa

Manusia belajar dari kesalahan. Dengan memahami kegagalan masa lalu, kita bisa menghindari jatuh ke lubang yang sama. Atasan saya pernah mengkritik tulisan saya: terlalu berbunga-bunga, tidak langsung pada inti. “Kurang-lebih hampir seratus,” katanya, bisa disederhanakan menjadi “sekitar seratus.” Satu kata yang jelas lebih kuat daripada empat kata yang kabur. Saya sepakat. Bahasa yang boros hanya membuang waktu—bagi penulis maupun pembaca. Waktu, sama seperti bahasa, adalah sumber daya yang terbatas. Pembaca bukan orang yang senggang. Mereka ingin mendapatkan inti informasi dengan cepat. Kalau tulisan hanya berputar tanpa isi, mereka akan berhenti membaca. Pelajaran serupa saya dapatkan di luar tulisan. Di Jakarta, saya pernah terlambat hadir di sebuah rapat penting. Kesalahan sederhana, tidak menghitung waktu tempuh, tidak menyiapkan cadangan rencana, membuat saya datang empat puluh menit terlambat. Akibatnya, rapat kacau, atasan saya kecewa. Saat itu saya sadar: kelalaian mengatur w...

Catatan Selepas Kerja: Bertemu Driver Lulusan Jerman

Saya memesan grab car untuk pulang dari meeting malam ini dan saya beruntung. Saat naik grab car, saya dapat driver lulusan Jerman. Namanya Pak Junus. Sebelum kuliah di Jerman, Pak Junus menempuh sekolah SMA di Moskow.  Pak Junus mengambil konsentrasi studi multimedia. Saat banyak orang di tahun 1990-an awal belum mengamati media, Pak Junus sudah membahas multimedia sebagai disiplin ilmu. Pria yang sudah empat tahun menjadi driver grab car ini mengingat apa saja yang dibahas ketika dulu kuliah itu seperti tv dan radio. Tapi, Pak Junus tidak menyelesaikan kuliahnya. Dia keluar dari kampus pada semester empat. Ceritanya, saat dia pulang untuk liburan ke Indonesia, dia iseng melamar kerja di sebuah perusahaan sebagai sales dan diterima. Gajinya cukup besar, yaitu sekitar Rp1 juta per bulan. Beberapa tahun merintis karier, dia menjadi kepala cabang perusahaan. Gaji Pak Junus di medio tahun 1998 sampai awal tahun 2000 sekitar Rp7.5 juta.  Penyesalan datang terlambat. Pak Junus bila...

Pelajaran dari Penjual Bakso dan Penjual Sushi

  Saya bersama istri rutin berkunjung ke Wadaslintang, Wonosobo. Wadaslintang adalah daerah asal istri saya. Jaraknya kurang lebih 32 KM dari rumah kami yang berada di Wonosobo kota. Kegiatan kami ke Wadaslintang yang utama adalah mengunjungi orang tua istri. Ayah mertua saya bekerja sebagai salah satu pamong di desa, sementara ibu mertua bekerja sebagai guru SD negeri. Setiap   kali kami ke Wadaslintang, kami menyicip bakso legendaris yang ada di sana. Bakso itu tak lain tak bukan adalah bakso Pak Tutur Hernawan. Saat kami tanya sudah berapa lama berjualan bakso, Pak Tutur dengan rendah hati menjawab sudah sejak 1979 atau sekitar 45 tahun lalu. Awal mula Pak Tutur berjualan bakso, yaitu dengan mendorong gerobak keliling desa. Lalu setelah tiga tahun berdagang keliling, Pak Tutur memutuskan untuk berjualan di sebuah gubuk kecil berukuran 3 kali 3.5 meter di pinggir jalan. Ruangan yang tidak lebar itu mungkin hanya muat untuk sepuluh orang dewasa. Itu pun sudah bersesakan. Ga...