Ada sebuah dialog antara seorang lelaki muda dengan mas-mas mantan aktivis yang kini jadi semacam akademisi. Akademisi bidang filsafat di sebuah universitas ternama.
Melihat lelaki muda freshgraduated yang jadi tamunya begitu lesu. Si akademisi menawarkan minuman hangat dari dalam dapurnya. Disajikannya dua gelas teh panas dan camilan ala kadarnya.
Dalam renung sepi tatapan mata si anak laki-laki muda, si akademisi sudah mahfum bahwa masalah tetamunya tak lepas dari urusan masa depan. Urusan pekerjaan atau sejenisnya. Oleh karena itu, dibukalah sebuah dialog.
Akademisi: 20 tahun lagi teman-temanmu yang kini seusia dengan dirimu mungkin akan menapaki karier mereka masing-masing. Bisa jadi ada yang sudah berpangkat kepala bidang jika dia ASN, pengusaha sukses jika dia pengusaha, atau manajer ketika dia memilih karier sebagai karyawan. Jalan setapak itu telah disusun oleh mereka. Sedikit demi sedikit.
Anak muda: ya saya sependapat. Hampir semua dari mereka melewatkan hari-harinya dengan usaha. Apakah rasa lelah sama sekali tiada mereka rasakan?Akademisi: Lelah memang lelah. Namun, mereka tetap gigih. Beberapa nampak dengan nyata di matamu bahwa mereka tekun belajar, bekerja keras, dan berani mengambil risiko.
Tak irikah kamu melihat mereka hari ini dan mereka nanti sukses di masa yang akan tiba nanti? Misalnya 20 tahun lagi. Sementara dirimu sekarang masih di tepi dermaga. Apakah kamu, ya dirimu, menanti samudera tenang agar kapalmu tidak karam?
Akademisi: oke senja belum tiba berarti. Saat senja tiba, ada kapal yang mendekat ke dermagamu. Dan, ketika kapal itu tiba dan nanti berlayar lagi, apakah yang mengantarkannya selain angin dan ombak?
Anak muda: saat kapal telah berlayar, lalu ombak dan angin/badai tiba, apakah aku akan karam seperti Titanic atau Van der Wijck?
Academic knoledge kudu diimbangi dengam tacit knowledge atau pengalaman real. Agar singkat dalam mengambil keputusan, pengalaman dipadukan dengam wawasan akademik.
Akademisi dan anak muda itu lalu menatap layar hape. Mereka mengirim wa ke pemilik akun blog ini dengan bunyi: Waktumu habis. Tulisanmu harus sudah kelar!
Komentar
Posting Komentar