Langsung ke konten utama

20 Tahun Lagi

Ada sebuah dialog antara seorang lelaki muda dengan mas-mas mantan aktivis yang kini jadi semacam akademisi. Akademisi bidang filsafat di sebuah universitas ternama. 

Melihat lelaki muda freshgraduated yang jadi tamunya begitu lesu. Si akademisi menawarkan minuman hangat dari dalam dapurnya. Disajikannya dua gelas teh panas dan camilan ala kadarnya.

Dalam renung sepi tatapan mata si anak laki-laki muda, si akademisi sudah mahfum bahwa masalah tetamunya tak lepas dari urusan masa depan. Urusan pekerjaan atau sejenisnya. Oleh karena itu, dibukalah sebuah dialog.

Akademisi: 20 tahun lagi teman-temanmu yang kini seusia dengan dirimu mungkin akan menapaki karier mereka masing-masing. Bisa jadi ada yang sudah berpangkat kepala bidang jika dia ASN, pengusaha sukses jika dia pengusaha, atau manajer ketika dia memilih karier sebagai karyawan. Jalan setapak itu telah disusun oleh mereka. Sedikit demi sedikit.

Anak muda: ya saya sependapat. Hampir semua dari mereka melewatkan hari-harinya dengan usaha. Apakah rasa lelah sama sekali tiada mereka rasakan?

Akademisi: Lelah memang lelah. Namun, mereka tetap gigih. Beberapa nampak dengan nyata di matamu bahwa mereka tekun belajar, bekerja keras, dan berani mengambil risiko. 

Tak irikah kamu melihat mereka hari ini dan mereka nanti sukses di masa yang akan tiba nanti? Misalnya 20 tahun lagi. Sementara dirimu sekarang masih di tepi dermaga. Apakah kamu, ya dirimu, menanti samudera tenang agar kapalmu tidak karam?

Anak muda: saya bahkan tak melihat ada kapal.

Akademisi: oke senja belum tiba berarti. Saat senja tiba, ada kapal yang mendekat ke dermagamu. Dan, ketika kapal itu tiba dan nanti berlayar lagi, apakah yang mengantarkannya selain angin dan ombak?

Kapal yang berlayar melintasi samudera tenang hanya ada di lukisan. Lukisan yang dibingkai kayu kaca halus. Sementara untuk sampai ke pulau impianmu kapal kudu berlayar. Dermaga kudu dibakar, kata Nietzche.

Anak muda: saat kapal telah berlayar, lalu ombak dan angin/badai tiba, apakah aku akan karam seperti Titanic atau Van der Wijck?

Akademisi: Setelah layar terkembang dan kapal berlayar, ombak dan angin memang akan mengombang-ambingkan biduk. Sesekali mungkin juga akan bikin perutmu mual. Bahkan godaan makhluk abstrak semisal Siren dalam cerita Yunani kuno bisa saja terjadi. Suara Siren yang teramat merdu bisa mengalihkan fokus utamamu untuk mencapai pulau. Siren akan menidurkanmu dalam stagnasi seraya melubangi bagian kapal agar lebih mudah karam. Ketahananmu diuji di sana.

Anak muda: Apa yang bisa membuat anda seyakin itu ke saya bahwa saya bisa bertahan?

Akademsi: Wawasanmu terbilang luas. Namun, karena luasannya hanya berdasar buku itu justru melemahkanmu dalam pengambilan keputusan. Pertimbanganmu terlampau banyak. Waktu semakin menuntut. Dan teman-temanmu, 20 tahun lagi, sudah teramat mengakumulasi kapital.

Academic knoledge kudu diimbangi dengam tacit knowledge atau pengalaman real. Agar singkat dalam mengambil keputusan, pengalaman dipadukan dengam wawasan akademik.

Akademisi dan anak muda itu lalu menatap layar hape. Mereka mengirim wa ke pemilik akun blog ini dengan bunyi: Waktumu habis. Tulisanmu harus sudah kelar!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Efisiensi dari Waktu dan Bahasa

Manusia belajar dari kesalahan. Dengan memahami kegagalan masa lalu, kita bisa menghindari jatuh ke lubang yang sama. Atasan saya pernah mengkritik tulisan saya: terlalu berbunga-bunga, tidak langsung pada inti. “Kurang-lebih hampir seratus,” katanya, bisa disederhanakan menjadi “sekitar seratus.” Satu kata yang jelas lebih kuat daripada empat kata yang kabur. Saya sepakat. Bahasa yang boros hanya membuang waktu—bagi penulis maupun pembaca. Waktu, sama seperti bahasa, adalah sumber daya yang terbatas. Pembaca bukan orang yang senggang. Mereka ingin mendapatkan inti informasi dengan cepat. Kalau tulisan hanya berputar tanpa isi, mereka akan berhenti membaca. Pelajaran serupa saya dapatkan di luar tulisan. Di Jakarta, saya pernah terlambat hadir di sebuah rapat penting. Kesalahan sederhana, tidak menghitung waktu tempuh, tidak menyiapkan cadangan rencana, membuat saya datang empat puluh menit terlambat. Akibatnya, rapat kacau, atasan saya kecewa. Saat itu saya sadar: kelalaian mengatur w...

Catatan Selepas Kerja: Bertemu Driver Lulusan Jerman

Saya memesan grab car untuk pulang dari meeting malam ini dan saya beruntung. Saat naik grab car, saya dapat driver lulusan Jerman. Namanya Pak Junus. Sebelum kuliah di Jerman, Pak Junus menempuh sekolah SMA di Moskow.  Pak Junus mengambil konsentrasi studi multimedia. Saat banyak orang di tahun 1990-an awal belum mengamati media, Pak Junus sudah membahas multimedia sebagai disiplin ilmu. Pria yang sudah empat tahun menjadi driver grab car ini mengingat apa saja yang dibahas ketika dulu kuliah itu seperti tv dan radio. Tapi, Pak Junus tidak menyelesaikan kuliahnya. Dia keluar dari kampus pada semester empat. Ceritanya, saat dia pulang untuk liburan ke Indonesia, dia iseng melamar kerja di sebuah perusahaan sebagai sales dan diterima. Gajinya cukup besar, yaitu sekitar Rp1 juta per bulan. Beberapa tahun merintis karier, dia menjadi kepala cabang perusahaan. Gaji Pak Junus di medio tahun 1998 sampai awal tahun 2000 sekitar Rp7.5 juta.  Penyesalan datang terlambat. Pak Junus bila...

Pelajaran dari Penjual Bakso dan Penjual Sushi

  Saya bersama istri rutin berkunjung ke Wadaslintang, Wonosobo. Wadaslintang adalah daerah asal istri saya. Jaraknya kurang lebih 32 KM dari rumah kami yang berada di Wonosobo kota. Kegiatan kami ke Wadaslintang yang utama adalah mengunjungi orang tua istri. Ayah mertua saya bekerja sebagai salah satu pamong di desa, sementara ibu mertua bekerja sebagai guru SD negeri. Setiap   kali kami ke Wadaslintang, kami menyicip bakso legendaris yang ada di sana. Bakso itu tak lain tak bukan adalah bakso Pak Tutur Hernawan. Saat kami tanya sudah berapa lama berjualan bakso, Pak Tutur dengan rendah hati menjawab sudah sejak 1979 atau sekitar 45 tahun lalu. Awal mula Pak Tutur berjualan bakso, yaitu dengan mendorong gerobak keliling desa. Lalu setelah tiga tahun berdagang keliling, Pak Tutur memutuskan untuk berjualan di sebuah gubuk kecil berukuran 3 kali 3.5 meter di pinggir jalan. Ruangan yang tidak lebar itu mungkin hanya muat untuk sepuluh orang dewasa. Itu pun sudah bersesakan. Ga...