Buku bersampul tebal itu berjudul 2021. Di sana diceritakan aneka kemuraman zaman, dari kehilangan orang tercinta hingga pupusnya asa harapan. Kisah betapa muramnya medio Juli-Agustus 2021 mungkin lebih pedih dibanding tragedi Sampar di Kota Oran yang diceritakan Camus (1946).
Di Kota Oran, kita tidak menyaksikan tragedi global yang ditimbulkan makhluk renik ultra-mikro dengan mahkota beracun. Kita juga tidak melihat layanan rumah sakit dalam jumlah masif kolaps. Namun, ada hal yang sama kita lihat dari tragedi Sampar di Kota Oran. Yaitu tentang kemanusiaan.
Kemanusiaan itu ditunjukkan olah para tenaga kesehatan. Selain para nakes yang jasanya sudah tak diragukan lagi, ada juga para ahli vaksin. Mereka, para ilmuwan vaksin, bersusah sampai payah dengan fisik yang tersandera waktu menguji aneka model vaksin yang layak bagi manusia. Setelah berjuang cukup lama, ditemukanlah vaksin. Sudah banyak orang terselamatkan berkat kerja keras mereka.
Sekat benang dari buku bersampul tebal itu menuntun kita untuk menuju akhir buku. Di bab terakhir, tertulis judul "Akhir Tahun". Di bab Akhir Tahun, termuat cerita tentang transisi masif gaya hidup umat manusia. Manusia diarahkan oleh keadaan untuk memakai medium internet atau digital dalam beraktifitas.
Seorang dosen bisa menguji dua orang mahasiswa sambil berkendara menuju lokasi penelitian. Pekerja administrasi bisa suntuk di tengah malam karena masih zoom dengan atasannya. Ada fleksibilitas, tapi sekaligus ambiguitas ketika masuk ke dunia digital.
Ambiguitas itu direkam oleh Romo Budi Hardiman (2020) dalam buku terbarunya. Ambiguitas dunia digital tak lepas dari anonimitas individu dengan individu lain serta terlepasnya interaksi dengan ruang dan waktu. Keterpautan manusia dengan manusia lain hanya berdasarkan garis kepentingan semata yang sering lupa apa itu empati.
Saya dan juga anda tentu memiliki kenangan tersendiri dan intim dengan buku bersampul tebal berjudul 2021. Hingga kita sadar, ada sebuah kesamaan antara buku saya dengan buku anda. Kesamaan itu terletak di daftar referensi.
Pada daftar referensi kita meletakkan tautan buku babon dengan tema serupa yakni imajinasi hidup selamat. Imajinasi hidup selamat mengandaikan kita, manusia, berada dalam kepasrahan. Sebagaimana muasal kata selamet yang artinya tidak terjadi apa-apa. Tidak meningkat, tapi juga tidak jatuh (Geertz, Agama Jawa, 2016). Yang penting masih hidup. Masih memiliki subtansi hidup yaitu eksistensialisme.
Imajinasi hidup selamat bersama itu hampir berfungsi sebagai sihir agar lilin harapan tetap menyala. Dan lembaran awal buku bersampul tebal dengan judul 2022 pun sudah dibuka. Judul bab awalnya ialah "hidup bersama". Kalimat pertama di bab awal itu adalah kata tanya; "Apa Kabar?".
Komentar
Posting Komentar