Langsung ke konten utama

2022

 Buku bersampul tebal itu berjudul 2021. Di sana diceritakan aneka kemuraman zaman, dari kehilangan orang tercinta hingga pupusnya asa harapan. Kisah betapa muramnya medio Juli-Agustus 2021 mungkin lebih pedih dibanding tragedi Sampar di Kota Oran yang diceritakan Camus (1946).


Di Kota Oran, kita tidak menyaksikan tragedi global yang ditimbulkan makhluk renik ultra-mikro dengan mahkota beracun. Kita juga tidak melihat layanan rumah sakit dalam jumlah masif kolaps. Namun, ada hal yang sama kita lihat dari tragedi Sampar di Kota Oran. Yaitu tentang kemanusiaan.

Kemanusiaan itu ditunjukkan olah para tenaga kesehatan. Selain para nakes yang jasanya sudah tak diragukan lagi, ada juga para ahli vaksin. Mereka, para ilmuwan vaksin, bersusah sampai payah dengan fisik yang tersandera waktu menguji aneka model vaksin yang layak bagi manusia. Setelah berjuang cukup lama, ditemukanlah vaksin. Sudah banyak orang terselamatkan berkat kerja keras mereka.

Sekat benang dari buku bersampul tebal itu menuntun kita untuk menuju akhir buku. Di bab terakhir, tertulis judul "Akhir Tahun". Di bab Akhir Tahun, termuat cerita tentang transisi masif gaya hidup umat manusia. Manusia diarahkan oleh keadaan untuk memakai medium internet atau digital dalam beraktifitas.

Seorang dosen bisa menguji dua orang mahasiswa sambil berkendara menuju lokasi penelitian. Pekerja administrasi bisa suntuk di tengah malam karena masih zoom dengan atasannya. Ada fleksibilitas, tapi sekaligus ambiguitas ketika masuk ke dunia digital.

Ambiguitas itu direkam oleh Romo Budi Hardiman (2020) dalam buku terbarunya. Ambiguitas dunia digital tak lepas dari anonimitas individu dengan individu lain serta terlepasnya interaksi dengan ruang dan waktu. Keterpautan manusia dengan manusia lain hanya berdasarkan garis kepentingan semata yang sering lupa apa itu empati.

Saya dan juga anda tentu memiliki kenangan tersendiri dan intim dengan buku bersampul tebal berjudul 2021. Hingga kita sadar, ada sebuah kesamaan antara buku saya dengan buku anda. Kesamaan itu terletak di daftar referensi.

Pada daftar referensi kita meletakkan tautan buku babon dengan tema serupa yakni imajinasi hidup selamat. Imajinasi hidup selamat mengandaikan kita, manusia, berada dalam kepasrahan. Sebagaimana muasal kata selamet yang artinya tidak terjadi apa-apa. Tidak meningkat, tapi juga tidak jatuh (Geertz, Agama Jawa, 2016). Yang penting masih hidup. Masih memiliki subtansi hidup yaitu eksistensialisme.

Imajinasi hidup selamat bersama itu hampir berfungsi sebagai sihir agar lilin harapan tetap menyala. Dan lembaran awal buku bersampul tebal dengan judul 2022 pun sudah dibuka. Judul bab awalnya ialah "hidup bersama". Kalimat pertama di bab awal itu adalah kata tanya; "Apa Kabar?".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Efisiensi dari Waktu dan Bahasa

Manusia belajar dari kesalahan. Dengan memahami kegagalan masa lalu, kita bisa menghindari jatuh ke lubang yang sama. Atasan saya pernah mengkritik tulisan saya: terlalu berbunga-bunga, tidak langsung pada inti. “Kurang-lebih hampir seratus,” katanya, bisa disederhanakan menjadi “sekitar seratus.” Satu kata yang jelas lebih kuat daripada empat kata yang kabur. Saya sepakat. Bahasa yang boros hanya membuang waktu—bagi penulis maupun pembaca. Waktu, sama seperti bahasa, adalah sumber daya yang terbatas. Pembaca bukan orang yang senggang. Mereka ingin mendapatkan inti informasi dengan cepat. Kalau tulisan hanya berputar tanpa isi, mereka akan berhenti membaca. Pelajaran serupa saya dapatkan di luar tulisan. Di Jakarta, saya pernah terlambat hadir di sebuah rapat penting. Kesalahan sederhana, tidak menghitung waktu tempuh, tidak menyiapkan cadangan rencana, membuat saya datang empat puluh menit terlambat. Akibatnya, rapat kacau, atasan saya kecewa. Saat itu saya sadar: kelalaian mengatur w...

Catatan Selepas Kerja: Bertemu Driver Lulusan Jerman

Saya memesan grab car untuk pulang dari meeting malam ini dan saya beruntung. Saat naik grab car, saya dapat driver lulusan Jerman. Namanya Pak Junus. Sebelum kuliah di Jerman, Pak Junus menempuh sekolah SMA di Moskow.  Pak Junus mengambil konsentrasi studi multimedia. Saat banyak orang di tahun 1990-an awal belum mengamati media, Pak Junus sudah membahas multimedia sebagai disiplin ilmu. Pria yang sudah empat tahun menjadi driver grab car ini mengingat apa saja yang dibahas ketika dulu kuliah itu seperti tv dan radio. Tapi, Pak Junus tidak menyelesaikan kuliahnya. Dia keluar dari kampus pada semester empat. Ceritanya, saat dia pulang untuk liburan ke Indonesia, dia iseng melamar kerja di sebuah perusahaan sebagai sales dan diterima. Gajinya cukup besar, yaitu sekitar Rp1 juta per bulan. Beberapa tahun merintis karier, dia menjadi kepala cabang perusahaan. Gaji Pak Junus di medio tahun 1998 sampai awal tahun 2000 sekitar Rp7.5 juta.  Penyesalan datang terlambat. Pak Junus bila...

Pelajaran dari Penjual Bakso dan Penjual Sushi

  Saya bersama istri rutin berkunjung ke Wadaslintang, Wonosobo. Wadaslintang adalah daerah asal istri saya. Jaraknya kurang lebih 32 KM dari rumah kami yang berada di Wonosobo kota. Kegiatan kami ke Wadaslintang yang utama adalah mengunjungi orang tua istri. Ayah mertua saya bekerja sebagai salah satu pamong di desa, sementara ibu mertua bekerja sebagai guru SD negeri. Setiap   kali kami ke Wadaslintang, kami menyicip bakso legendaris yang ada di sana. Bakso itu tak lain tak bukan adalah bakso Pak Tutur Hernawan. Saat kami tanya sudah berapa lama berjualan bakso, Pak Tutur dengan rendah hati menjawab sudah sejak 1979 atau sekitar 45 tahun lalu. Awal mula Pak Tutur berjualan bakso, yaitu dengan mendorong gerobak keliling desa. Lalu setelah tiga tahun berdagang keliling, Pak Tutur memutuskan untuk berjualan di sebuah gubuk kecil berukuran 3 kali 3.5 meter di pinggir jalan. Ruangan yang tidak lebar itu mungkin hanya muat untuk sepuluh orang dewasa. Itu pun sudah bersesakan. Ga...