Ayah saya seorang pendiam. Dia hanya mengeluarkan kata-kata
jika diperlukan saja. Barangkali itulah kesan saya terhadap ayah saya sendiri.
Sebab dalam setahun saja, bila dituliskan dialog kami berdua tidak akan sampai
memenuhi satu kertas ukuran portofolio. Kami bertukar kalimat hanya
sekilas-sekilas saja, misalnya ketika saya membukakan pintu saat ayah saya
pulang pada malam hari.
Sifat diamnya itu menurut saya menjadi poin plusnya. Dia
bisa teramat tenang dan jarang sekali marah. Jika marah pun, ungkapan yang
keluar bukan kalimat panjang, melainkan kata yang berkonotasi negatif saja. itu
pun hanya beberapa menit, lalu dia diam lagi. Masalah biasanya selesai setelah
itu.
Pada tahun 2013 dulu, ketika saya SMA, saya dan seorang
teman tertangkap seorang pemilik ruko yang tembok depannya saya gambari. Pemilik ruko itu menyuruh saya
menelepon orang tua saya untuk datang. Orang tua saya disuruh datang untuk melihat
kebandelan anaknya. Sebelum orang tua saya datang, pemilik toko itu marah-marah
ke saya dan teman saya. Dia keluarkan sumpah serapah dan seperti warning bahwa warga bisa saja dia
panggil untuk memukuli saya dan teman saya.
Tidak berselang lama, orang tua saya datang. Ibu saya
menangis dan memarahi saya karena ngeyel
dan susah diatur hingga merugikan orang lain. Seraya menangis dan marah, ia
bilang ke pemilik ruko untuk bagaimana baiknya. Sayang sekali karena emosinya
begitu tidak terkendali, kalimatnya susah diterima. Karena kalimatnya susah
diterima, pemilik ruko juga ngomel terus.
Saat itulah baru ayah saya yang pendiam itu menengahi. Dia bilang kepada
pemilik ruko kalau tembok yang saya gambari
itu bisa dibersihkan dan anaknya bakal tanggung jawab membersihkan gambar yang yang
ada di tembok.
Kalimat bahwa saya dan teman saya akan bertanggungjawab
membersihkan tembok si pemilik ruko itu menyelamatkan kami. Saya beneran membersihkan tembok ruko itu.
Dari pukul 12 sampai adzan subuh hampir berkumandang, dengan dibantu beberapa
teman lainnya, tembok ruko itu berhasil bersih kembali. Momen itu masih melekat
di benak saya.
Sifat diam ayah saya itu memang seperti membenarkan petuah
diam itu emas. Sebagaimana emas, sikap diam atau tenang memang teramat
berharga. Dalam ilmu keuangan, emas disebut sebagai asset anti-inflasi. Maksudnya,
nilai dari emas akan relatif terjaga pada masa apapun termasuk pada saat krisis
sekalipun. Ketenangan memang dibutuhkan pada saat krisis. Ungkapan-ungkapan yang
bernada emosi jika diungkapkan pada saat krisis bisa mengundang kondisi yang
semakin genting. Sebabnya, pihak lain bisa saja dengan subyektif merasa
ungkapan itu merendahkan atau menyakiti hatinya.
Sikap diam atau tenang itu layaknya emas, bukan semata dari
nilainya, melainkan proses memperolehnya juga. Proses memperoleh segram emas
tidak mudah. Orang yang bekerja di industri logam mulia itu tahu betapa
panjang prosesnya, sehingga memakan ketekunan yang luar biasa untuk memperoleh emas
bahkan untuk hanya satu gram saja.
Saya teringat masa lalu ayah saya yang dari muda sudah
bekerja. Orang tuanya bisa dibilang orang yang sederhana dan pas-pasan, ayah
dari ayah saya hanya seorang petani-penggaduh sapi dan ibu dari ayah saya hanya
seorang penjual bubur. Pendidikan ayah juga hanya sampai SMP. Setelah tamat
SMP, dia bekerja sebagai sopir truk di toko besi yang lokasinya tak jauh dari
rumah, tepatnya di tetangga kepanewonan.
Selama dia bekerja, saya diberitahu oleh ayah saya bahwa
teman sekampungnya sering menggunjinginya karena jarang keluar rumah untuk
kumpulan atau srawung. Ayah saya
sudah lelah dan tidak punya waktu. Di tengah gunjingan itu, ayah saya hanya
bersabar. Termasuk ketika bulik saya
atau adik ayah menikah tidak seorang pun pemuda dusun yang mau nyinom. Ayah saya tetap sabar.
Sekarang, mungkin ayah saya sedikit banyak sudah memetik
hasil kerja kerasnya. Meski belum seberapa sebenarnya, namun kondisi hari ini
yang dia atau keluarga alami sudah lebih baik dibanding dirinya dulu. Minimal,
anaknya mengenyam pendidikan yang lebih baik dibanding dirinya dulu. Dalam
diam, saya berdoa semoga dia sehat selalu dan diberi umur panjang oleh Tuhan.
Komentar
Posting Komentar