Langsung ke konten utama

Percakapan dengan Tuhan

 

Maafkan hamba ya Tuhan. 

Malam ini saya begitu geram pada realita. Bagaimana tidak, Ya Tuhan, mengapa begitu mudah mata ini melihat ketidakadilan dipertontonkan dengan telanjang. Ketidakadilan dalam bentuknya yang paling gamblang. 

Saya seperti menoleh ka dua keranjang. Keranjang kanan dan keranjang kiri. Di keranjang kanan, berisi orang-orang kaya dan berkuasa. Di keranjang kiri, isinya adalah rakyat jelata. Orang-orang kaya dan berkuasa melipatgandakan kuasa mereka seperti memetik daun dari pohon yang tidak pernah habis. Daun dari pohon itu selalu tumbuh setelah dipetik, dipetik satu tumbuh seribu. Sementara orang-orang di keranjang kiri kesusahan hanya untuk makan dan mengakses pendidikan. 

Ya Tuhan hamba jadi gamang dengan iman. 

Mengapa Tuhan yang maha adil sampai menciptakan atau membiarkan dunia yang begini rupa. Saya bukan orang saleh, namun sering juga membaca kitab suci. Saya juga bukan orang pintar, namun sering juga baca buku. Di kitab maupun di buku ada rasa optimisme bahwa Engkau akan mengubah nasib seseorang saat orang itu berusaha. Saat orang itu mau melompat dari keranjang kiri ke keranjang kanan. Dari kemalangan dan kemelaratan ke kekuasaan dan kejayaan. Buku memberi jalan untuk lompatan itu bisa terwujud. 

Engkau melapangkan juga dada orang yang memilih untuk ikhlas. Dalam Bahasa jawanya adalah narimo ing pandum. Lantas, mengapa juga hamba diberi akal dan selintas pengetahuan tentang perlawanan? Ya Tuhan, bukankah perlawanan atas statusquo adalah bentuk tidak ikhlas? Oh, aku ingat. Engkau memberi kebebasan bagi hambanya sebagaimana saya memikirkan bahwa saya sekarang di keranjang yang mana. Kebebasan merasakan apakah saya menderita atau tidak. 

Ya Tuhan memang benar Engkau mengada dalam ide. 

Siapa saya adalah apa ide di kepala saya, kata Plato. Terhadap materi yang kusaksikan, ideku manut kehendakmu mau berkembang jadi apa. Jadi ide untuk ikhlas, melawan, atau merasa terlebih dulu tertindas atau tersungging. 

Namun maafkanlah hamba ya Tuhan, ternyata nikmat untuk tidak memikirkan sesuatu  juga Kau sajikan ke hamba. Ketika hamba menjadi tiada dalam keadaan, jadi sunyi di tengah ramai, anglakoni topo rame.Tapi, maafkan Tuhan, sementara mata hamba melihat dan telinga mendengar orang bergelimang harta dengan mudahnya menindas orang tak berpunya kekuatan, apa yang harus hamba lakukan? Hamba cuma bisa mendoakan agar si miskin tegar, di level paling bawah begitu. Di level kedua, hamba cuma bisa menulis seperti ini. Kadang ilmiah, namun lebih sering gerundelan saja.

Atau melawan? Yang dimana hamba akan kalah dan terasing. Hamba akan tiada beneran dalam relasi sosial. Eksistensi hamba akan hilang. Mampukah Engkau, Tuhanku, menolongku Ketika aku terjatuh dalam lumpur kekalahan seperti itu? 

Sejarahmu adalah sejarah kekalahan dan penderitaan, kan? Katamu mengingatkan aku. Benar Tuhan, hidup hamba memang sejarah kekalahan, keterasingan, dan ketidakeksistensialis itu sendiri. Kehendakmu untuk berkuasa barangkali perlu diredam, menyitir Nietzsche.

Suara bisikan lembut berbunyi di telinga saya: Sudah banyak yang kau lihat, mungkin sekarang ada baiknya tak langsung memantik emosimu. Ambillah jarak dari realita di hadapanmu bahkan ambillah di luar dari perspektifmu. Jarak dari perspektifmu akan lebih luas seandainya tak semata keranjang kanan dan kiri, tapi juga depan, belakang, atas, bawah, dan arah lainnya. Kau pasti mampu mengambil jarak, sebelum berpikir, Mas. Santailah seperti kata filsuf kebanggaanmu itu: jadilah Pesimis-aktif dan Optimis-pasif, Bahasa Indonesianya tekunlah/telitilah. Bahasa Inggrisnya rigority. Bahasa Jawanya, ojo grusa-grusu. Suuuuu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Efisiensi dari Waktu dan Bahasa

Manusia belajar dari kesalahan. Dengan memahami kegagalan masa lalu, kita bisa menghindari jatuh ke lubang yang sama. Atasan saya pernah mengkritik tulisan saya: terlalu berbunga-bunga, tidak langsung pada inti. “Kurang-lebih hampir seratus,” katanya, bisa disederhanakan menjadi “sekitar seratus.” Satu kata yang jelas lebih kuat daripada empat kata yang kabur. Saya sepakat. Bahasa yang boros hanya membuang waktu—bagi penulis maupun pembaca. Waktu, sama seperti bahasa, adalah sumber daya yang terbatas. Pembaca bukan orang yang senggang. Mereka ingin mendapatkan inti informasi dengan cepat. Kalau tulisan hanya berputar tanpa isi, mereka akan berhenti membaca. Pelajaran serupa saya dapatkan di luar tulisan. Di Jakarta, saya pernah terlambat hadir di sebuah rapat penting. Kesalahan sederhana, tidak menghitung waktu tempuh, tidak menyiapkan cadangan rencana, membuat saya datang empat puluh menit terlambat. Akibatnya, rapat kacau, atasan saya kecewa. Saat itu saya sadar: kelalaian mengatur w...

Catatan Selepas Kerja: Bertemu Driver Lulusan Jerman

Saya memesan grab car untuk pulang dari meeting malam ini dan saya beruntung. Saat naik grab car, saya dapat driver lulusan Jerman. Namanya Pak Junus. Sebelum kuliah di Jerman, Pak Junus menempuh sekolah SMA di Moskow.  Pak Junus mengambil konsentrasi studi multimedia. Saat banyak orang di tahun 1990-an awal belum mengamati media, Pak Junus sudah membahas multimedia sebagai disiplin ilmu. Pria yang sudah empat tahun menjadi driver grab car ini mengingat apa saja yang dibahas ketika dulu kuliah itu seperti tv dan radio. Tapi, Pak Junus tidak menyelesaikan kuliahnya. Dia keluar dari kampus pada semester empat. Ceritanya, saat dia pulang untuk liburan ke Indonesia, dia iseng melamar kerja di sebuah perusahaan sebagai sales dan diterima. Gajinya cukup besar, yaitu sekitar Rp1 juta per bulan. Beberapa tahun merintis karier, dia menjadi kepala cabang perusahaan. Gaji Pak Junus di medio tahun 1998 sampai awal tahun 2000 sekitar Rp7.5 juta.  Penyesalan datang terlambat. Pak Junus bila...

Pelajaran dari Penjual Bakso dan Penjual Sushi

  Saya bersama istri rutin berkunjung ke Wadaslintang, Wonosobo. Wadaslintang adalah daerah asal istri saya. Jaraknya kurang lebih 32 KM dari rumah kami yang berada di Wonosobo kota. Kegiatan kami ke Wadaslintang yang utama adalah mengunjungi orang tua istri. Ayah mertua saya bekerja sebagai salah satu pamong di desa, sementara ibu mertua bekerja sebagai guru SD negeri. Setiap   kali kami ke Wadaslintang, kami menyicip bakso legendaris yang ada di sana. Bakso itu tak lain tak bukan adalah bakso Pak Tutur Hernawan. Saat kami tanya sudah berapa lama berjualan bakso, Pak Tutur dengan rendah hati menjawab sudah sejak 1979 atau sekitar 45 tahun lalu. Awal mula Pak Tutur berjualan bakso, yaitu dengan mendorong gerobak keliling desa. Lalu setelah tiga tahun berdagang keliling, Pak Tutur memutuskan untuk berjualan di sebuah gubuk kecil berukuran 3 kali 3.5 meter di pinggir jalan. Ruangan yang tidak lebar itu mungkin hanya muat untuk sepuluh orang dewasa. Itu pun sudah bersesakan. Ga...