Langsung ke konten utama

Mayora Sehat

 

Setiap orang tentu pernah makan biskuit. Makanan renyah yang menemani kita dalam aneka kesibukan dan aktivitas. Pada Hari Raya Lebaran, sudah jadi kewajiban setiap tuan rumah menyediakan biskuit bagi tamunya yang berkunjung. Selain biskuit, di atas meja biasanya ditemani dengan setoples permen, cokelat, dan segelas kopi.

Mengingat makanan-minuman itu, jadi teringat pada salah satu produsennya, yaitu PT Mayora. Produk perusahaan yang berkantor di Jakarta Barat itu begitu beraneka dan sudah sering ditemui masyarakat. Untuk menyebut beberapa contoh, PT Mayora memproduksi Roma Kelapa, Roma Sari Gandum, Kopiko, Beng-beng, Astor, dan Kopi Tora Bika. Produk-produk tersebut seperti sudah menemani kita setiap harinya.

Pada masa pandemi, Mayora patut bersyukur perusahaannya masih sehat. Kesehatan perusahaan itu ditandai dari produknya yang masih terjual di pasar. Iya, pendapatan perusahaan memang menurun, namun penurunannya tidak terlalu dalam, hanya -2,2%. Dari segi kapitalisasi pasar, nilainya justru naik jadi sekitar Rp60 triliun dari sebelumnya pada tahun 2019 yang berkisar Rp45 triliun.

PT Mayora tetap sehat pada masa pandemi ini, misalnya bila dilihat struktur modalnya. Mayora memiliki persentase utang terhadap modal yang hanya 43% pada tahun 2020. Jumlah itu jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sejak tahun 2011 sampai 2019, persentase utang terhadap total modal perusahaan berkisar dari 58% sampai 123% dengan rata-ratanya 86%.

Pada tahun-tahun ketika utang perusahaan tinggi, bahkan melebihi modal, kinerja perusahaan cenderung turun. Hal itu tidak lepas dari besarnya biaya bunga yang mesti dibayar perusahaan. Ibarat memakan daging, utang turut serta membawa lemak-lemak yang berlebih hingga menyulitkan tubuh bergerak dan mengganggu kesehatan.

Manajer perusahaan pada masa krisis seperti sekarang ini pasti merapal seratus kali kata “efisiensi”. Efisiensi jadi semacam jimat yang kemudian jadi laku yang bisa menyelamatkan perusahaan ketika pemasukan berkurang dan beban operasional jalan terus. Langkah efisiensi untuk memaksimalkan kinerja perusahaan pada masa krisis juga diterapkan oleh PT Mayora.

Efisiensi di PT Mayora dilaksanakan dengan mengurangi pembelian asset tetap. Pengurangan pembelian asset tetap tersebut terlihat dari menurunnya pengeluaran bagi uang muka pembelian asset tetap dari Rp1,459 triliun pada 2019 jadi Rp521 miliar pada 2020. Efisiensi ini penting sebab penjualan maupun kinerja Mayora pada tahun 2020 mengalami penurunan.

Pada tahun 2021, ternyata langkah menjaga struktur modal dan efisiensi masih dipegang oleh Mayora. Persentase utang terhadap modal hingga semester 1 2021 hanya mencapai 31%, lebih rendah dibanding rasio debt to equity akhir tahun lalu. Pengeluaran di pos uang muka asset tetap diketahui juga masih rendah. Itu artinya, perusahaan menahan diri untuk tak membeli peralatan operasional maupun distribusi ketika kondisi pandemi seperti sekarang ini.

Syukurlah, godaan berupa penjualan yang naik pada semester pertama 2021 tak menggoyang iman manajemen perusahaan. Iman pada struktur modal yang sehat dan operasional bisnis yang efisien. Kinerja perusahaan dapat diasumsikan sama dengan tahun lalu (13%), mengingat pandemi yang belum berakhir. Meski demikian, Mayora pasti bisa menjaga kinerjanya, sebab Mayora tak cuma pandai meracik makanan sehat, tetapi juga mampu merasik perusahaan yang sehat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Selepas Kerja: Bertemu Driver Lulusan Jerman

Saya memesan grab car untuk pulang dari meeting malam ini dan saya beruntung. Saat naik grab car, saya dapat driver lulusan Jerman. Namanya Pak Junus. Sebelum kuliah di Jerman, Pak Junus menempuh sekolah SMA di Moskow.  Pak Junus mengambil konsentrasi studi multimedia. Saat banyak orang di tahun 1990-an awal belum mengamati media, Pak Junus sudah membahas multimedia sebagai disiplin ilmu. Pria yang sudah empat tahun menjadi driver grab car ini mengingat apa saja yang dibahas ketika dulu kuliah itu seperti tv dan radio. Tapi, Pak Junus tidak menyelesaikan kuliahnya. Dia keluar dari kampus pada semester empat. Ceritanya, saat dia pulang untuk liburan ke Indonesia, dia iseng melamar kerja di sebuah perusahaan sebagai sales dan diterima. Gajinya cukup besar, yaitu sekitar Rp1 juta per bulan. Beberapa tahun merintis karier, dia menjadi kepala cabang perusahaan. Gaji Pak Junus di medio tahun 1998 sampai awal tahun 2000 sekitar Rp7.5 juta.  Penyesalan datang terlambat. Pak Junus bila...

Catatan Harian (1)

  Tanggal 12 Maret 2026 Bulan Ramadhan sudah hampir selesai. Saya baru melaksanakan tarawih sekali, di hari pertama. Selebihnya, bablas karena aneka macam alasan. Dari mulai alasan remeh temeh atau penting. Tapi Ramadhan tahun ini memang berbeda. Selain jumlah pelaksanaan tarawih yang nyungsep laksana rasionalitas Donald Trump, saya menjalani Ramadhan di Jakarta. Pada tahun-tahun sebelumnya, saya menjalani Ramadhan di Jogja (kampung halaman) dan di Wonosobo (kampung asal istri). Suasana Jakarta yang serba cepat membuat rasa Ramadhan tidak begitu terasa. Seperti orang sholat di ujung pergantian waktu; serba terburu-buru. Tidak sempat kita merasakan tumakninah atau berdiam/tenang selepas ruku’. Bacaan juga alakadarnya. Suasana kedalaman dan ketenangan Ramadhan menjadi serasa menguap bersama pekat polusi ibu kota. Apa mungkin Jakarta terlalu bergerak dengan cepat, ya?

Belajar Efisiensi dari Waktu dan Bahasa

Manusia belajar dari kesalahan. Dengan memahami kegagalan masa lalu, kita bisa menghindari jatuh ke lubang yang sama. Atasan saya pernah mengkritik tulisan saya: terlalu berbunga-bunga, tidak langsung pada inti. “Kurang-lebih hampir seratus,” katanya, bisa disederhanakan menjadi “sekitar seratus.” Satu kata yang jelas lebih kuat daripada empat kata yang kabur. Saya sepakat. Bahasa yang boros hanya membuang waktu—bagi penulis maupun pembaca. Waktu, sama seperti bahasa, adalah sumber daya yang terbatas. Pembaca bukan orang yang senggang. Mereka ingin mendapatkan inti informasi dengan cepat. Kalau tulisan hanya berputar tanpa isi, mereka akan berhenti membaca. Pelajaran serupa saya dapatkan di luar tulisan. Di Jakarta, saya pernah terlambat hadir di sebuah rapat penting. Kesalahan sederhana, tidak menghitung waktu tempuh, tidak menyiapkan cadangan rencana, membuat saya datang empat puluh menit terlambat. Akibatnya, rapat kacau, atasan saya kecewa. Saat itu saya sadar: kelalaian mengatur w...