Langsung ke konten utama

Novel Jalan Bandungan: Dinamika Perempuan Mempertahankan Hak-Haknya


    Dinamika perempuan mempertahankan hak-haknya digambarkan dengan bagus oleh Nh. Dini dalam novelnya yang berjudul “Jalan Bandungan” (2019). Dinamika tersebut diceritkan melalui tokoh utama perempuan yang bernama Muryati. Muryati sebagai tokoh utama merupakan anak seorang aparat kepolisian level bawah dengan ekonomi keluarga yang pas-pasan atau sederhana.

    Mur diceritakan sebagai seorang perempuan yang menghadapi aneka keadaan dilematis dalam hidupnya. Keadaan dilematis itu berasal dari lingkungan sosial yang melingkupi Mur. Keadaan dilematis yang pertama, yakni pada awal novel, Mur diceritakan dilamar oleh Widodo, seorang polisi anak buah ayah Mur. Lamaran Widodo membuat Mur gusar. Sebab di sisi lain, Mur ingin menempuh pendidikan tinggi untuk mencapai cita-citanya sebagai guru.

    Keadaan dilematis selanjutnya adalah ketika Mur ingin melepaskan diri dari ikatan pernikahannya dengan Widodo. Widodo berubah menjadi pribadi yang kurang bertanggung jawab setelah ikut bergabng sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Demi ideologi dan partai, Widodo melupakan tanggungjawabnya memberi nafkah pada istri dan anak-anaknya. Keadaan menjadi lebih rumit setelah Widodo ditahan oleh pemerintah Orde Baru karena terlibat pemberontakan G30S/PKI. Ditahannya Widodo mengakibatkan, secara lahir dan batin, ia sudah tidak mampu menafkahi Mur dan anak-anak mereka.

    Keadaan dilematis yang ketiga merujuk pada keraguan Mur untuk menjalin pernikahan dengan Handoko, adik kandung Widodo yang sekaligus adik iparnya sendiri. Handoko seorang insinyur lulusan Jerman memikat hati Mur ketika dia belajar ke eropa. Awalnya Mur ragu. Keraguan itu timbul tidak lepas dari suara miring warga sekitar. Namun, pada akhirnya Mur memilih untuk menikah dengan Handoko.

    Beberapa keadaan dilematis yang dihadapi Mur bisa dilewati tak lain berkat faktor Mur sendiri yang tegar dan teguh atas keinginan-keinginannya di dunia pendidikan, serta pengaruh atau dukungan orang-orang terdekat Mur. Terkait dukungan orang sekitar Mur, tergambar pada setiap kondisi dilematis yang dia lewati. Pada kondisi dilemma yang pertama, Orang Tua Mur, baik ibu atau bapak, bersepakat bahwa Mur harus menyelesaikan kuliahnya dan menjadi seorang guru di kemudian hari. Widodo tidak boleh menikahi Mur kalau dia belum lulus kuliah. Berkat dukungan dari orangtua Mur, Widodo melunak dan bersabar. Mur bisa menyelesaikan kuliahnya dan menjadi guru, lalu sesudah itu baru mereka menikah.

Sampul Buku Jalan Bandungan karya Nh. Dini

    Kondisi dilemma yang kedua, selain orangtua, dukungan atau bantuan dari sahabat-sahabat karibnya merupakan sesuatu yang penting. Mur dikuatkan untuk tetap bersabar pada kondisi yang buruk. Tidak mudah bagi seorang istri untuk bertahan merawat anak-anak seorang diri. Terlebih ketika sudah diketahui kalau statusnya istri atau janda dari seorang tapol, dampaknya bisa lebih rumit menyangkut ekonomi dan administrasi pemerintahan. Dukungan moril, materiil, dan aneka koneksi teman-teman dekat Mur adalah kunci bagi Mur bertahan. Teman-teman Mur itu ada yang berprofesi sebagai diplomat, pengusaha, dokter, polisi, atau akademisi. Mur sangat terbantu, misalnya ketika butuh uang dia dibantu temannya yang pengusaha; ketika butuh guidance ketika mengurus beasiswa dan kuliah di luar negeri, temannya yang diplomat membantu; ketika sakit, dokter yang membantu; dan lain sebagainya. Dengan kata lain, Mur berhasil mengarungi aneka kesulitan tak lepas dari bantuan-sahabat-sahabatnya itu.

    Pada kondisi dilematis yang ketiga, Mur sudah cukup matang dari segi usia  (hampir 40 tahun) dan pengalaman untuk mengambil keputusan. Keputusan menikah dengan Handoko memang tidak sederhana, ada pertimbangan sosial karena ia adalah adik iparnya. Lalu apa kata orang, batin Mur. Akan tetapi, Mur yang telah mengenyam pendidkan tinggi telah bisa membuat kalkulasi dengan siapa dia menjalin rumah-tangga. Itu sepenuhnya adalah haknya. Apalagi, dia sudah sah bercerai dengan suaminya terdahulu sehingga tidak menyisakan beban.

    Dari novel Jalan Bandungan yang setebal 453 halaman tersebut, terungkap juga bahwa dinamika Mur sebagai seorang perempuan saat menghadapi dilemma-dilemma dalam hidupnya tak lepas dari keberaniannya mengutarakan kritik atas kondisi sosial. Kritik di novel itu tergambar implisit maupun eksplisit. Misalnya, keinginan Mur untuk sekolah secara implisit juga digabarkan dengan suasana asyik saat berkumpul dengan teman-teman sekolah. Sementara pada saat ketemu dengan calon suami (Widodo) suasana cenderung kaku, mengekang, dan serba terbatas.

    Kritik sosial dalam novel itu digambarkan juga dengan eksplisit. Misalnya, kritik pada penganggaran pemerintah di bidang pendidkan yang timpang dibandingkan kementerian lainnya disampaikan pada halaman 365, kutipannya sebagai berikut:

 bahwa persatuan guru tidak mendapat cukup tunjangan untuk memperbaiki keadaan. Semua datang dari pokok mulanya, karena anggaran pemerintah yang dimasukkan di bidang pendidikan dan kebudayaan jauh lebih kecil dari bidang lainnya. Misalnya, bukan merupakan rahasia bahwa anggaran terbesar negara ditelan oleh Kementerian pertahanan. Dia katakan, barangkali hal itu akan berubah jika kelak Indonesia sudah mapan betul, tidak mengkhawatirkan serangan dari luar” (Dini, 2019:365)

  Kesimpulannya, novel Jalan Bandungan ini menarik untuk dibaca guna memahami dinamika perempuan dalam mempertahankan hak-haknya. Hak-hak itu mencakup hak untuk menempuh pendidikan, mandiri, atau mengambil keputusan urgen lainnya seperti memilih pasangan hidup. Sebagai tambahan, ada tokoh kedua dan ketiga, selain Mur, yang bisa dibaca sebagai penggambaran tokoh perempuan tangguh. Tokoh kedua adalah Ibu dari Muryati. Ketangguhannya lekas tergambar ketika sosok suaminya, ayah Mur, wafat. Tokoh ketiga adalah Ganik, salah satu dari sahabat karib Mur yang berprofesi sebagai diplomat yang pada ujung hayatnya mesti menderita kanker yang parah.

Referensi

Dini, N. (2019). Jalan Bandungan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Efisiensi dari Waktu dan Bahasa

Manusia belajar dari kesalahan. Dengan memahami kegagalan masa lalu, kita bisa menghindari jatuh ke lubang yang sama. Atasan saya pernah mengkritik tulisan saya: terlalu berbunga-bunga, tidak langsung pada inti. “Kurang-lebih hampir seratus,” katanya, bisa disederhanakan menjadi “sekitar seratus.” Satu kata yang jelas lebih kuat daripada empat kata yang kabur. Saya sepakat. Bahasa yang boros hanya membuang waktu—bagi penulis maupun pembaca. Waktu, sama seperti bahasa, adalah sumber daya yang terbatas. Pembaca bukan orang yang senggang. Mereka ingin mendapatkan inti informasi dengan cepat. Kalau tulisan hanya berputar tanpa isi, mereka akan berhenti membaca. Pelajaran serupa saya dapatkan di luar tulisan. Di Jakarta, saya pernah terlambat hadir di sebuah rapat penting. Kesalahan sederhana, tidak menghitung waktu tempuh, tidak menyiapkan cadangan rencana, membuat saya datang empat puluh menit terlambat. Akibatnya, rapat kacau, atasan saya kecewa. Saat itu saya sadar: kelalaian mengatur w...

Catatan Selepas Kerja: Bertemu Driver Lulusan Jerman

Saya memesan grab car untuk pulang dari meeting malam ini dan saya beruntung. Saat naik grab car, saya dapat driver lulusan Jerman. Namanya Pak Junus. Sebelum kuliah di Jerman, Pak Junus menempuh sekolah SMA di Moskow.  Pak Junus mengambil konsentrasi studi multimedia. Saat banyak orang di tahun 1990-an awal belum mengamati media, Pak Junus sudah membahas multimedia sebagai disiplin ilmu. Pria yang sudah empat tahun menjadi driver grab car ini mengingat apa saja yang dibahas ketika dulu kuliah itu seperti tv dan radio. Tapi, Pak Junus tidak menyelesaikan kuliahnya. Dia keluar dari kampus pada semester empat. Ceritanya, saat dia pulang untuk liburan ke Indonesia, dia iseng melamar kerja di sebuah perusahaan sebagai sales dan diterima. Gajinya cukup besar, yaitu sekitar Rp1 juta per bulan. Beberapa tahun merintis karier, dia menjadi kepala cabang perusahaan. Gaji Pak Junus di medio tahun 1998 sampai awal tahun 2000 sekitar Rp7.5 juta.  Penyesalan datang terlambat. Pak Junus bila...

Pelajaran dari Penjual Bakso dan Penjual Sushi

  Saya bersama istri rutin berkunjung ke Wadaslintang, Wonosobo. Wadaslintang adalah daerah asal istri saya. Jaraknya kurang lebih 32 KM dari rumah kami yang berada di Wonosobo kota. Kegiatan kami ke Wadaslintang yang utama adalah mengunjungi orang tua istri. Ayah mertua saya bekerja sebagai salah satu pamong di desa, sementara ibu mertua bekerja sebagai guru SD negeri. Setiap   kali kami ke Wadaslintang, kami menyicip bakso legendaris yang ada di sana. Bakso itu tak lain tak bukan adalah bakso Pak Tutur Hernawan. Saat kami tanya sudah berapa lama berjualan bakso, Pak Tutur dengan rendah hati menjawab sudah sejak 1979 atau sekitar 45 tahun lalu. Awal mula Pak Tutur berjualan bakso, yaitu dengan mendorong gerobak keliling desa. Lalu setelah tiga tahun berdagang keliling, Pak Tutur memutuskan untuk berjualan di sebuah gubuk kecil berukuran 3 kali 3.5 meter di pinggir jalan. Ruangan yang tidak lebar itu mungkin hanya muat untuk sepuluh orang dewasa. Itu pun sudah bersesakan. Ga...