Tesis saya belum selesai sampai saat ini. Padahal, batas akhir pendaftaran agar tidak membayar biaya uang kuliah (UKT) adalah besok atau tanggal 25 Juni. Saya perlu menarik nafas perlahan untuk menerima kenyataan ini. Orang tua saya jelas terbebani untuk membiayai anaknya ini agar bisa masuk semester depan. Sudah puluhan juta dikeluarkan demi pendidikan saya.
Masalah mengapa tesis ini begitu lama diselesaikan mungkin karena tema dan datanya yang berat bagi saya. Butuh waktu 6 bulan untuk sekadar input data. Diawali pada awal 2021, data baru selesai di Bulan Mei 2021.
Kendala selanjutnya adalah pada metodologi alias Bab 3. Kacaunya pemahaman saya tentang metode kuantitatif menuntut waku yang lama agar bisa paham. Waktu sekitar sebulan dibutuhkan untuk paham step-step uji pengaruh dengan data panel.
Tibalah pada bulan Juni. Awalnya semangat masih menyala. Harapan mendaftar sebelum tanggal 25 masih terbuka lebar. Ibarat pelari marathon, garis finis sudah di depan mata. Kaki masih kuat berlari ke sana.
Variabel analisis dan koreksi dosen akhirnya jadi seperti tantangan yang tidak mudah diselesaikan. Terpaksa pada Juni ini, bimbingan berlangsung intens. Koreksi demi koreksi perlahan menunjukkan hasil. Sayangnya kini sudah tanggal 24. Tenaga saya sudah lungkrah (lelah).
Masalah lelah pada fisik pada dasarnya bukan hambatan. Bisa diatasi dengan istirahat. Hanya saja pikiran saya khawatir pada bagian analisis akan jadi analisis yang tidak dalam. Hanya jadi analisis yang menyentuh permukaan dan kurang bermakna. Saya beberapa kali membaca tulisan dan senang saat analisis yang ada di tulisan itu mendalam serta bagus. Sehingga ada makna setelah membacanya.
Salah satu tulisan yang bagus itu adalah jurnal yang ditulis oleh Dosen pembimbing saya sendiri. Dosen pembimbing saya namanya Pak Bowo Setiyono. Pendidikan S3-nya di Paris dan memiliki minat riset pada bidang keuangan dan perbankan. Jurnal yang ditulisnya pada tahun 2014 adalah mengenai diversifikasi dewan direksi di bank dan pengaruhnya pada kinerja bank. Jurnal itu jadi acuan saya, terutama untuk penyajian data.
Di bagian analisisnya, Pak Bowo cukup mengesankan karena Beliau bisa mendasari temuan pada penelitiannya dengan teori secara mengalir. Temuannya adalah semakin terdiversifikasi dewan direksi berdasarkan etnis, maka semakin rendah pula kinerja perusahaan. Dialektika tercipta mengapa temuan penelitian bisa begitu, yaitu antara teori SDM dan teori kontingensi. Teori SDM menyebut semakin beragam dewan direksi, maka kinerja semakin bagus. Sementara teori kontingensi, bilang kalau selain kelebihan, diverensiasi di dewan direksi juga membawa tuntutan untuk menyelaraskan nilai dan pemikiran dari beragam orang serta latar belakangnya. Penyelarasan tersebut sering berdampak pada inefisiensi.
Dialektika teori itulah yang saya harap ada di tesis saya. Referensi dalam tesis sementara saya ini bisa dibilang memadai untuk menuju ke dialektika teori. Hanya saja dengan temuan penelitian yang baru saya dapat, rasanya harus diperbanyak agar analisisnya lebih dalam. Pertanyaannya apakah mampu dalam sehari, katakanlah Hari Kamis ini, semua itu terlaksana?
Hhhmm baiklah pada pukul 3 dini hari ini saya buat semacam rencana kerja untuk 24 jam ke depan. Analisis tesis butuh waktu 6-8 jam. Secara konsisten dimulai pukul 8 pagi. Selesai pukul 5 sore. Setelah itu perlu disinkornkan dengan bagian lain tesis. Mulai dari latar belakang, bab 2, dan kesimpulan. Selesai semua bisa pukul 9 malam.
Hasilnya dikirim ke WA dan email dosbing. Mari kita coba "Perjuangan" hari ini.
*kata perjuangan saya gunakan agar ada semangat perlawanan. Perlawanan melawan musuh terbesar: kemalasan diri sendiri.
Hhhmm baiklah pada pukul 3 dini hari ini saya buat semacam rencana kerja untuk 24 jam ke depan. Analisis tesis butuh waktu 6-8 jam. Secara konsisten dimulai pukul 8 pagi. Selesai pukul 5 sore. Setelah itu perlu disinkornkan dengan bagian lain tesis. Mulai dari latar belakang, bab 2, dan kesimpulan. Selesai semua bisa pukul 9 malam.
Hasilnya dikirim ke WA dan email dosbing. Mari kita coba "Perjuangan" hari ini.
*kata perjuangan saya gunakan agar ada semangat perlawanan. Perlawanan melawan musuh terbesar: kemalasan diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar