Langsung ke konten utama

Catatan Ringan 3 Tahun Lalu

 

Saya mulai menarik nafas dalam-dalam. Lama sudah tak duduk di depan komputer. Padahal, beberapa minggu yang lalu, jari ini njelimet mencari huruf di papan ketik guna menyusun karya maha agung bernama “Raden Skripsi (e)S siji”. Udara yang masuk dari rongga hidung ke paru-paru itu sungguh membantu melepas ketegangan. Darah lancar, pasokan oksigen ke otak beres.

Setelah lulus kuliah, saya merasa sedikit bingung. Tentu saja bingung tentang masa depan dan pekerjaan saya pribadi. Tapi, setelah mengamati percakapan di sebuah grup line, saya jadi sedikit bisa lega.

Saya lega karena masih ada rasa solidaritas dalam grup line angkatan kuliah itu. Teman-teman sesama lulusan baru begitu bersemangat membagi info formasi kebutuhan PNS, membagi tata cara pendaftaran, dan lain-lain. Tentu hal tersebut sangat baik.

Sebelum percakapan tentang PNS atau lowongan kerja ini, percakapan banyak mendiskusikan berbagai macam hal. Mulai dari kuliah, koordinasi acara, sampai gojekan gayeng. Ada guyub di dalamnya.

Sifat guyub di grup line angkatan itu sama dengan sifat guyup yang ada di Warteg, Angkringan, warung burjo, atau tempat bernuansa egaliter lainnya. Di warteg, orang begitu mudah mendapatkan makanan yang diinginkan. Tempe orek, ayam goreng, sambal, olahan sayur, dan macam-macam makanan dengan rasa yang enak. Perut kenyang dan energi badan terisi. Dan jangan lupa, hanya dengan harga murah (Kompas, 16 September 2018).

Sama seperti di Warteg, di grup line angkatan itu, informasi begitu mudah didapat. Tanpa perlu bayar apapun alias gratis. Nuansa guyup inilah yang perlu dipertahankan dari media sosial. Satu sama lain saling membantu. Meringankan atau memberi terang atas kebingungan orang lain.

Berangkat dari informasi yang saya dapat secara cuma-cuma itu, saya menjadi lebih mudah mengambil keputusan. Di tengah nuansa ‘selo’ karena belum ada pekerjaan, tentu info lowongan PNS sangat penting. Semoga saja Allah memberi yang terbaik, entah dengan diterima atau tidak diterima di seleksi tahun ini. Bagi saya dan bagi teman-teman saya. Aamiin.

Catatan di atas merupakan catatan kecil saya pada bulan September 2018. Sebulan setelah lulus kuliah S1. Awalnya, saya iseng ingin menulis catatan harian yang rutin, namun gagal. Hanya bertahan sehari. Sisanya saya menulis dengan tema ngalor-ngidul di blog pribadi. Atau sering juga menganalisis fenomena harian yang saya amati, misalnya tentang novel yang saya baca, cerita ke angkringan, atau sok-sokan bahas bisnis.

Pada tahun 2021 ini, rasanya perlu dipikirkan kembali untuk menulis catatan harian yang rutin. Banyak peristiwa harian yang getir belakangan, terutama setelah pandemi datang. Mungkin kalau jadi menulis catatan, saya ingin, ya benar-benar ingin, tidak menulis tentang politik pragmatis. Sebab itu teramat remeh dan hanya episode sampiran dalam sejarah.

Lebih berguna menulis tentang apa yang dekat dan dinamikanya kita amati. Contohnya guyub antar sesama teman di atas.

Selain menemukam catatan harian yang sialnya hanya sehari itu, saya juga menemukan catatan tentang Hardiknas pada 2018. Catatan itu hanya catatan ringan mengenai pergerakan mahasiswa di UGM. Berikut catatannya:

2 Mei 2016, digelar demo besar-besaran yang dimotori oleh mahasiswa terhadap pihak rektorat UGM. Gerakan demo itu diikuti oleh ribuan mahasiswa di UGM dari beragam jurusan dan fakultas. Mereka mendesak pihak rektorat untuk mau mendengarkan tuntuta yang mereka usung. Adapun tuntutan tersebut ada tiga, yaitu penurunan biaya pendidikan atau Uang Kuliah Tunggal (UKT), pembayaran gaji karyawan, dan dibatalkannya penggusuran Kantin Bonbin FIB.

Bertepatan dengan hari pendidikan nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2016, gerakan itu bertahan cukup lama. Diawali pada pagi hari, mahasiswa melewati panas terik matahari manakala siang mulai tiba. Saat menjelang siang, pihak rektorat berkenan bertemu dengan mahasiswa untuk berdialog. Di dalam dialog tersebut, terlihat Rektor UGM waktu itu, Prof. Dwikorita Karnawati, didampingi oleh beberapa wakil rektor dan beberapa dekan fakultas. Dialog pun terjadi antara pihak rektorat dengan perwakilan mahasiswa.

Terlepas dari isi dialog yang terjadi di antara pihak rektorat dan mahasiswa waktu itu, aksi demonstrasi itu kini, pada tahun 2018, tidak terjadi lagi. Lalu-lintas media massa tidak gemuruh dengan keinginan melakukan aksi serupa. Berbeda dengan apa yang terjadi pada tahun 2017, saat sekelompok mahasiswa masih berkenan melakukan aksi di depan rektorat. Aksi tersebut dilatarbelakangi oleh tuntutan yang kurang lebih sama dengan tuntutan pada tahun 2016. Meskipun demikian, perlu diakui bahwa secara kuantitas jumlah partisipasi mahasiswa sangat kecil bila dibandingkan dengan demo di tahun 2016.

Tahun 2018 ini nampaknya mahasiswa terkesan apati terhadap kebijakan rektorat. Saya berasumsi bahwa konsentrasi mahasiswa UGM dari pertengahan tahun 2017 sampai 2018 awal ini tertuju pada isu politik nasional dan isu suksesi presiden BEM KM UGM. Akan tetapi, dalam hilir-mudik isu yang gencar tersebut, ternyata masih ada segelintir mahasiswa yang kangen atau rindu aksi pada tahun 2016 itu. Perasaan nostalgia itu mereka suarakan dalam status media sosial berupa line. Karena hal tersebut, saya berniat menganalisis penyebab mengapa demo tahun 2016 bisa besar sebelum akhirnya jagad aktivisme mahasiswa akhir-akhir ini pindah ke sosmed.

Demo pada tahun 2016 adalah demo yang besar karena beberapa momentum. Momentum yang dimaksud adalah sebuah pemantik bagi aksi (mahasiswa) tersebut yang berasal dari internal dirinya dan juga dari eksternal dirinya. Dari internal mahasiswa, demo tahun 2016 adalah pelepas dahaga dari segala pencarian isu yang mampu memantik keresahan mahasiswa dalam jumlah besar. Sebelum itu, organisasi mahasiswa, mulai BEM sampai HMJ, memang mengusung beberapa isu, tapi tidak mampu meresahkan mahasiswa pada umumnya. Salah satu isu yang diangkat adalah pembangunan taman di selatan FEB. Taman itu dikritisi karena pembangunannya tidak jelas secara arsitektur dan fungsinya.

Isu ketidakjelasan pembangunan taman itu tidak booming karena hanya sebagian mahasiswa yang menggunakannya atau minimal mau melihatnya. Bisa dibilang sekadar mahasiswa FEB dan FIB saja yang paham betul bahwa taman itu jelek dan tidak berfungsi. Isu lain yang pernah diangkat, kalau tidak salah, adalah sterilisasi area GSP sebagai ruang publik. Isu itu dilatarbelakangi oleh maraknya mobil mahasiswa yang parkir di area GSP. Akibat dari area GSP yang menjadi lahan parkir begitu banyak mobil itu adalah rusaknya rumput di lapangan GSP yang setiap pagi atau sore yang sedianya digunakan untuk olahraga. Kemudian, banyaknya mobil itu juga mengesankan citra kampus kerakyatan yang mulai luntur di UGM.

Minimya isu yang mampu memantik keresahan publik dan berujung pada aksi demo membuat organisasi mahasiswa yang berisi aktivis-aktivis itu memutar otak mencari isu bersama. Isu tentang biaya pendidikan yang semakin mahal akhirnya dipilih. Pelopor gerakan itu adalah seorang mahasiswa DPP angkatan 2013 Fisipol UGM. Mahasiswa itu banyak melakukan riset tentang UKT (Uang Kuliah Tunggal) yang diterapkan di UGM sebagai PTN-BH (Perguruan Tinggi Negeri-Berbada Hukum).

Penelitian itu mengatakan, bahwa UKT yang ada di UGM tidak berpihak kepada rakyat kelas bawah dan memiliki keberpihakan pada logika pasar (McDonalisasi PT). Dengan basis penelitiannya, isu ini menjadi isu yang kokoh karena berbasis pada data ilmiah. Kemudian, penelitian itu juga dikuatkan dengan beredarnya beberapa penuturan mahasiswa tentang beban UKT yang dirasa berat dan merepotkan perekonomian keluarganya.

Selain isu UKT, isu penggusuran Kantin Bonbin di FIB menjadi pemantik berikutnya. Kantin yang bernuansa angkringan dan merupakan ruang interaksi yang cukup cair ini digusur demi alasan pembangunan pembangkit listrik. Pembangunan pembangkit listrik itu digunakan untuk mengisi daya listrik beberapa fakultas di sekitarnya, seperti FEB, F. Psikologi, FIB, dan F. Filsafat.

Dekan FIB waktu itu, Pujo Semedi, bergerak menyosialisasikan proyek pembangunan itu kepada para pedagang. Pedagang-pedagang itu untuk sementara direlokasi di Lembah. Akan tetapi, nasi telah jadi bubur, kebijakan relokasi yang diharapkan dapat diterima warga kampus, terutama mahasiswa, tak mampu mengobati rasa kagol mahasiswa akan keintiman di Bonbin. Perlawanan pun dimulai.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Efisiensi dari Waktu dan Bahasa

Manusia belajar dari kesalahan. Dengan memahami kegagalan masa lalu, kita bisa menghindari jatuh ke lubang yang sama. Atasan saya pernah mengkritik tulisan saya: terlalu berbunga-bunga, tidak langsung pada inti. “Kurang-lebih hampir seratus,” katanya, bisa disederhanakan menjadi “sekitar seratus.” Satu kata yang jelas lebih kuat daripada empat kata yang kabur. Saya sepakat. Bahasa yang boros hanya membuang waktu—bagi penulis maupun pembaca. Waktu, sama seperti bahasa, adalah sumber daya yang terbatas. Pembaca bukan orang yang senggang. Mereka ingin mendapatkan inti informasi dengan cepat. Kalau tulisan hanya berputar tanpa isi, mereka akan berhenti membaca. Pelajaran serupa saya dapatkan di luar tulisan. Di Jakarta, saya pernah terlambat hadir di sebuah rapat penting. Kesalahan sederhana, tidak menghitung waktu tempuh, tidak menyiapkan cadangan rencana, membuat saya datang empat puluh menit terlambat. Akibatnya, rapat kacau, atasan saya kecewa. Saat itu saya sadar: kelalaian mengatur w...

Catatan Selepas Kerja: Bertemu Driver Lulusan Jerman

Saya memesan grab car untuk pulang dari meeting malam ini dan saya beruntung. Saat naik grab car, saya dapat driver lulusan Jerman. Namanya Pak Junus. Sebelum kuliah di Jerman, Pak Junus menempuh sekolah SMA di Moskow.  Pak Junus mengambil konsentrasi studi multimedia. Saat banyak orang di tahun 1990-an awal belum mengamati media, Pak Junus sudah membahas multimedia sebagai disiplin ilmu. Pria yang sudah empat tahun menjadi driver grab car ini mengingat apa saja yang dibahas ketika dulu kuliah itu seperti tv dan radio. Tapi, Pak Junus tidak menyelesaikan kuliahnya. Dia keluar dari kampus pada semester empat. Ceritanya, saat dia pulang untuk liburan ke Indonesia, dia iseng melamar kerja di sebuah perusahaan sebagai sales dan diterima. Gajinya cukup besar, yaitu sekitar Rp1 juta per bulan. Beberapa tahun merintis karier, dia menjadi kepala cabang perusahaan. Gaji Pak Junus di medio tahun 1998 sampai awal tahun 2000 sekitar Rp7.5 juta.  Penyesalan datang terlambat. Pak Junus bila...

Pelajaran dari Penjual Bakso dan Penjual Sushi

  Saya bersama istri rutin berkunjung ke Wadaslintang, Wonosobo. Wadaslintang adalah daerah asal istri saya. Jaraknya kurang lebih 32 KM dari rumah kami yang berada di Wonosobo kota. Kegiatan kami ke Wadaslintang yang utama adalah mengunjungi orang tua istri. Ayah mertua saya bekerja sebagai salah satu pamong di desa, sementara ibu mertua bekerja sebagai guru SD negeri. Setiap   kali kami ke Wadaslintang, kami menyicip bakso legendaris yang ada di sana. Bakso itu tak lain tak bukan adalah bakso Pak Tutur Hernawan. Saat kami tanya sudah berapa lama berjualan bakso, Pak Tutur dengan rendah hati menjawab sudah sejak 1979 atau sekitar 45 tahun lalu. Awal mula Pak Tutur berjualan bakso, yaitu dengan mendorong gerobak keliling desa. Lalu setelah tiga tahun berdagang keliling, Pak Tutur memutuskan untuk berjualan di sebuah gubuk kecil berukuran 3 kali 3.5 meter di pinggir jalan. Ruangan yang tidak lebar itu mungkin hanya muat untuk sepuluh orang dewasa. Itu pun sudah bersesakan. Ga...