Saya mulai menarik nafas dalam-dalam. Lama sudah tak
duduk di depan komputer. Padahal, beberapa minggu yang lalu, jari ini njelimet mencari huruf di papan ketik
guna menyusun karya maha agung bernama “Raden
Skripsi (e)S siji”. Udara yang masuk dari rongga hidung ke paru-paru itu
sungguh membantu melepas ketegangan. Darah lancar, pasokan oksigen ke otak
beres.
Setelah lulus kuliah, saya merasa sedikit bingung. Tentu
saja bingung tentang masa depan dan pekerjaan saya pribadi. Tapi, setelah
mengamati percakapan di sebuah grup line, saya jadi sedikit bisa lega.
Saya lega karena masih ada rasa solidaritas dalam
grup line angkatan kuliah itu. Teman-teman sesama lulusan baru begitu
bersemangat membagi info formasi kebutuhan PNS, membagi tata cara pendaftaran,
dan lain-lain. Tentu hal tersebut sangat baik.
Sebelum percakapan tentang PNS atau lowongan kerja
ini, percakapan banyak mendiskusikan berbagai macam hal. Mulai dari kuliah,
koordinasi acara, sampai gojekan gayeng. Ada guyub di dalamnya.
Sifat guyub di grup line angkatan itu sama dengan
sifat guyup yang ada di Warteg, Angkringan, warung burjo, atau tempat bernuansa
egaliter lainnya. Di warteg, orang begitu mudah mendapatkan makanan yang
diinginkan. Tempe orek, ayam goreng, sambal, olahan sayur, dan macam-macam makanan
dengan rasa yang enak. Perut kenyang dan energi badan terisi. Dan jangan lupa,
hanya dengan harga murah (Kompas, 16 September 2018).
Sama seperti di Warteg, di grup line angkatan itu, informasi
begitu mudah didapat. Tanpa perlu bayar apapun alias gratis. Nuansa guyup
inilah yang perlu dipertahankan dari media sosial. Satu sama lain saling
membantu. Meringankan atau memberi terang atas kebingungan orang lain.
Berangkat dari informasi yang saya dapat secara cuma-cuma
itu, saya menjadi lebih mudah mengambil keputusan. Di tengah nuansa ‘selo’ karena belum ada pekerjaan, tentu
info lowongan PNS sangat penting. Semoga saja Allah memberi yang terbaik, entah
dengan diterima atau tidak diterima di seleksi tahun ini. Bagi saya dan bagi
teman-teman saya. Aamiin.
Catatan di atas merupakan catatan kecil saya pada bulan September 2018. Sebulan setelah lulus kuliah S1. Awalnya, saya iseng ingin menulis catatan harian yang rutin, namun gagal. Hanya bertahan sehari. Sisanya saya menulis dengan tema ngalor-ngidul di blog pribadi. Atau sering juga menganalisis fenomena harian yang saya amati, misalnya tentang novel yang saya baca, cerita ke angkringan, atau sok-sokan bahas bisnis.
Pada tahun 2021 ini, rasanya perlu dipikirkan kembali untuk menulis catatan harian yang rutin. Banyak peristiwa harian yang getir belakangan, terutama setelah pandemi datang. Mungkin kalau jadi menulis catatan, saya ingin, ya benar-benar ingin, tidak menulis tentang politik pragmatis. Sebab itu teramat remeh dan hanya episode sampiran dalam sejarah.
Lebih berguna menulis tentang apa yang dekat dan dinamikanya kita amati. Contohnya guyub antar sesama teman di atas.
Selain menemukam catatan harian yang sialnya hanya sehari itu, saya juga menemukan catatan tentang Hardiknas pada 2018. Catatan itu hanya catatan ringan mengenai pergerakan mahasiswa di UGM. Berikut catatannya:
2 Mei 2016, digelar demo besar-besaran
yang dimotori oleh mahasiswa terhadap pihak rektorat UGM. Gerakan demo itu
diikuti oleh ribuan mahasiswa di UGM dari beragam jurusan dan fakultas. Mereka
mendesak pihak rektorat untuk mau mendengarkan tuntuta yang mereka usung.
Adapun tuntutan tersebut ada tiga, yaitu penurunan biaya pendidikan atau Uang
Kuliah Tunggal (UKT), pembayaran gaji karyawan, dan dibatalkannya penggusuran Kantin
Bonbin FIB.
Bertepatan dengan hari pendidikan
nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2016, gerakan itu bertahan cukup lama.
Diawali pada pagi hari, mahasiswa melewati panas terik matahari manakala siang
mulai tiba. Saat menjelang siang, pihak rektorat berkenan bertemu dengan
mahasiswa untuk berdialog. Di dalam dialog tersebut, terlihat Rektor UGM waktu
itu, Prof. Dwikorita Karnawati, didampingi oleh beberapa wakil rektor dan
beberapa dekan fakultas. Dialog pun terjadi antara pihak rektorat dengan
perwakilan mahasiswa.
Terlepas dari isi dialog yang terjadi di
antara pihak rektorat dan mahasiswa waktu itu, aksi demonstrasi itu kini, pada
tahun 2018, tidak terjadi lagi. Lalu-lintas media massa tidak gemuruh dengan
keinginan melakukan aksi serupa. Berbeda dengan apa yang terjadi pada tahun
2017, saat sekelompok mahasiswa masih berkenan melakukan aksi di depan
rektorat. Aksi tersebut dilatarbelakangi oleh tuntutan yang kurang lebih sama
dengan tuntutan pada tahun 2016. Meskipun demikian, perlu diakui bahwa secara
kuantitas jumlah partisipasi mahasiswa sangat kecil bila dibandingkan dengan demo
di tahun 2016.
Tahun 2018 ini nampaknya mahasiswa
terkesan apati terhadap kebijakan rektorat. Saya berasumsi bahwa konsentrasi
mahasiswa UGM dari pertengahan tahun 2017 sampai 2018 awal ini tertuju pada isu
politik nasional dan isu suksesi presiden BEM KM UGM. Akan tetapi, dalam
hilir-mudik isu yang gencar tersebut, ternyata masih ada segelintir mahasiswa
yang kangen atau rindu aksi pada tahun 2016 itu. Perasaan nostalgia itu mereka
suarakan dalam status media sosial berupa line.
Karena hal tersebut, saya berniat menganalisis penyebab mengapa demo tahun 2016
bisa besar sebelum akhirnya jagad aktivisme mahasiswa akhir-akhir ini pindah ke sosmed.
Demo pada tahun 2016 adalah demo yang
besar karena beberapa momentum. Momentum yang dimaksud adalah sebuah pemantik
bagi aksi (mahasiswa) tersebut yang berasal dari internal dirinya dan juga dari
eksternal dirinya. Dari internal mahasiswa, demo tahun 2016 adalah pelepas
dahaga dari segala pencarian isu yang mampu memantik keresahan mahasiswa dalam
jumlah besar. Sebelum itu, organisasi mahasiswa, mulai BEM sampai HMJ, memang
mengusung beberapa isu, tapi tidak mampu meresahkan mahasiswa pada umumnya.
Salah satu isu yang diangkat adalah pembangunan taman di selatan FEB. Taman itu
dikritisi karena pembangunannya tidak jelas secara arsitektur dan fungsinya.
Isu ketidakjelasan pembangunan taman itu
tidak booming karena hanya sebagian
mahasiswa yang menggunakannya atau minimal mau melihatnya. Bisa dibilang sekadar
mahasiswa FEB dan FIB saja yang paham betul bahwa taman itu jelek dan tidak
berfungsi. Isu lain yang pernah diangkat, kalau tidak salah, adalah sterilisasi
area GSP sebagai ruang publik. Isu itu dilatarbelakangi oleh maraknya mobil
mahasiswa yang parkir di area GSP. Akibat dari area GSP yang menjadi lahan
parkir begitu banyak mobil itu adalah rusaknya rumput di lapangan GSP yang
setiap pagi atau sore yang sedianya digunakan untuk olahraga. Kemudian,
banyaknya mobil itu juga mengesankan citra kampus kerakyatan yang mulai luntur
di UGM.
Minimya isu yang mampu memantik
keresahan publik dan berujung pada aksi demo membuat organisasi mahasiswa yang
berisi aktivis-aktivis itu memutar otak mencari isu bersama. Isu tentang biaya
pendidikan yang semakin mahal akhirnya dipilih. Pelopor gerakan itu adalah
seorang mahasiswa DPP angkatan 2013 Fisipol UGM. Mahasiswa itu banyak melakukan
riset tentang UKT (Uang Kuliah Tunggal) yang diterapkan di UGM sebagai PTN-BH
(Perguruan Tinggi Negeri-Berbada Hukum).
Penelitian itu mengatakan, bahwa
UKT yang ada di UGM tidak berpihak kepada rakyat kelas bawah dan memiliki
keberpihakan pada logika pasar (McDonalisasi PT). Dengan basis penelitiannya,
isu ini menjadi isu yang kokoh karena berbasis pada data ilmiah. Kemudian,
penelitian itu juga dikuatkan dengan beredarnya beberapa penuturan
mahasiswa tentang beban UKT yang dirasa berat dan merepotkan perekonomian
keluarganya.
Selain isu UKT, isu penggusuran Kantin
Bonbin di FIB menjadi pemantik berikutnya. Kantin yang bernuansa angkringan dan
merupakan ruang interaksi yang cukup cair ini digusur demi alasan pembangunan
pembangkit listrik. Pembangunan pembangkit listrik itu digunakan untuk mengisi
daya listrik beberapa fakultas di sekitarnya, seperti FEB, F. Psikologi, FIB,
dan F. Filsafat.
Dekan FIB waktu itu, Pujo Semedi,
bergerak menyosialisasikan proyek pembangunan itu kepada para pedagang.
Pedagang-pedagang itu untuk sementara direlokasi di Lembah. Akan tetapi, nasi
telah jadi bubur, kebijakan relokasi yang diharapkan dapat diterima warga
kampus, terutama mahasiswa, tak mampu mengobati rasa kagol mahasiswa akan keintiman di Bonbin. Perlawanan pun dimulai.
Komentar
Posting Komentar