Ada sebuah dialog antara seorang lelaki muda dengan mas-mas mantan aktivis yang kini jadi semacam akademisi. Akademisi bidang filsafat di sebuah universitas ternama. Melihat lelaki muda freshgraduated yang jadi tamunya begitu lesu. Si akademisi menawarkan minuman hangat dari dalam dapurnya. Disajikannya dua gelas teh panas dan camilan ala kadarnya. Dalam renung sepi tatapan mata si anak laki-laki muda, si akademisi sudah mahfum bahwa masalah tetamunya tak lepas dari urusan masa depan. Urusan pekerjaan atau sejenisnya. Oleh karena itu, dibukalah sebuah dialog. Akademisi: 20 tahun lagi teman-temanmu yang kini seusia dengan dirimu mungkin akan menapaki karier mereka masing-masing. Bisa jadi ada yang sudah berpangkat kepala bidang jika dia ASN, pengusaha sukses jika dia pengusaha, atau manajer ketika dia memilih karier sebagai karyawan. Jalan setapak itu telah disusun oleh mereka. Sedikit demi sedikit. Anak muda: ya saya sependapat. Hampir semua dari mereka melewatkan hari-harinya de...