Albert Camus, pemenang Nobel Sastra tahun 1957, pernah menulis esai filsafat dengan judul The Myth of Sisyphus (1942). Esai tersebut menceritakan seorang bekas raja yang lalim bernama Sisyphus. Karena kelalimannya, Sisyphus dihukum oleh Dewa Zeus untuk mendorong batu besar dari dasar ke puncak bukit. Setelah batu besar itu didorong dengan susah payah sampai puncak bukit oleh Sisyphus, batu besar dan berat itu lalu menggelinding kembali ke bawah. Sisypus pun harus mengulang mendorong batu itu kembali ke atas. Kutukan itu nampak absurd dan susah. Hidup manusia dalam benak Albert Camus nampak begitu; sekilas sia-sia dan absurd. Dan ada benarnya. Beberapa hari lalu, di media sosial ramai membahas orang-orang di daerah sekitaran Jakarta, terutama Bekasi dan Depok, yang berangkat pagi ke stasiun untuk bekerja. Mereka berangkat dini hari sebelum matahari pagi menyingsing. Sampai di stasiun, mereka masuk dalam kereta dengan desak-desakan. Menjelang pengujung pagi, kira-kira pukul 8.30...